Jepangrejo

Kamis, 13 Juni 2013

Kisah Cinta Qais dan Laila

Laila dan Majnun
Oleh: Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami qs
Sumber: Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )

Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”

Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”

Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.

Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.

Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.

Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.

Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”

Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.

Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.

Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.

Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.

Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.

Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.

Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.

Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.

Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.

Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.

Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.

Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.

Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.

Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.

Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.

Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.

Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.

Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.

Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.

Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.

Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.

Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.

Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.

Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.

Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.

Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.

Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.

Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.

Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.

Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.

Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya.

Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.

Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya.

Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.

Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.

Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.

Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

Rabu, 12 Juni 2013

Wong Sikep

Reaktualisasi Ajaran Samin
2

Samin, begitulah khalayak umum menyebut mereka. Mereka bermukim di sekitar Pegunungan Kendeng yang memanjang dari Pati hingga Tuban. Meski tak mengenyam pendidikan formal, warga Samin memiliki sikap hidup lebih santun daripada yang berpendidikan tinggi. Saminisme, ajaran hidup kaum Samin, selalu mengedepankan kejujuran dan kesahajaan.

BAGI mereka, gaya hidup orang modern sudah keluar dari koridor tujuan penciptaan manusia di bumi. Egoisme, hedonisme,
kebohongan, dan kerakusan kekuasaan adalah gaya hidup manusia modern. Korupsi (mencuri), debat kusir, dan saling fitnah tampaknya bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan saat ini. Dan, kaum Samin meyakini itulah yang memicu kerusakan di dunia.

Harmonisasi, bagi mereka, adalah tujuan utama menjalani hidup. Samin Surosentiko, pelopor ajaran saminisme, menyatakan tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. "Yang dinamakan sifat wisesa adiluhung) adalah bertindak sebagai wakil Allah," tutur Samin.

Alam dan jiwa masyarakat Samin seolah-olah sudah menyatu. Alam ibarat ibu mereka, karena alam menghidangkan kekayaan melimpah untuk dinikmati kapan pun. Karena itu mereka begitu mencintai dan menjaga alam. Wajar ketika investor asing (semen) datang dan hendak mengeksploitasi Pegunungan Kendeng, mereka berada di garda terdepan: melawan!

Orang Samin juga tidak kenal istilah berdagang. Karena berdagang, bagi mereka, selalu melahirkan unsur 'ketidakjujuran'. Mereka memilih sistem barter karena berlandaskan kejujuran dan tidak merugikan pihak lain. Bagi orang Samin, bohong adalah tabu. Mereka juga tidak menerima bantuan dalam bentuk uang.

Tabu Berbohong Raden Kohar atau Samin Surosentiko adalah otak intelektual paham saminisme. Samin lahir 1859 di Desa Plosokediren, Randublatung, Kabupaten Blora. Sang ayah bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal sebagai Samin Sepuh. Samin Surosentiko memiliki pertalian darah dengan Kiai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro, dan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) tahun 1802-1826.

Sastroatmodjo (2003) mengemukakan, saminisme muncul sebagai reaksi terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang sewenang-wenang. Mereka tidak melawan secara fisik, tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda.

Misalnya, tidak mau membayar pajak. Resistensi itu akhirnya membuat mereka memiliki tatanan, adat istiadat, dan kebiasaan tersendiri. Samin Surosentiko juga melawan kekuasaan kolonial lewat ekspansi gagasan dan pengetahuan. Samin Surosentiko mentransformasikan gagasan melalui ceramah di pendapa-pendapa pemerintahan desa. Inti ceramahnya seolah olah ingin membangun Kerajaan Amartapura.

Artinya, Samin menghendaki masyarakat bersifat jatmika (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam, dan jatmika selalu berpegangan pada budi pekerti. Dianggap penghasut masyarakat, tahun 1907 Samin Surosentiko ditangkap Belanda. Dia dibuang ke Sawahlunto, Sumatera barat, dan di sanalah maut menjemput tahun 1914.

Samin Surosentiko mewariskan sebuah kitab sastra adiluhung sebagai falsafah hidup orang Samin, yakni Serat Jamus Kalimasada. Saat ini, orang Samin sering disebut sebagai Wong Sikep yang berarti, jujur, dan baik. Kini, krisis moralitas melanda bangsa ini. Hedonisme dan pragmatisme bak dewa yang selalu disembah- sembah manusia. Rakus, tamak, dan perbuatan keji lain menjadi efek pasti kedua dewa itu.

Arus globalisasi sering dijadikan kambing hitam sebagai pemicu. Kendati demikian, masyarakat Samin bergeming dan tetap memegang prinsip hidup mereka. Karena itulah, saminisme sangat layak dijadikan cerminan hidup. Keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan adalah representasi masyarakat Samin.

Seolah-olah tak dijumpai celah dalam kehidupan mereka untuk berbuat iri, dengki, rakus, dan perbuatan negatif lain. Sikap Mulia Ada sebuah kisah menarik sebagai ilustrasi. Suatu ketika ada orang asing tersesat di desa masyarakat Samin. Karena kelaparan dan melihat buah pisang yang masak, orang asing itu pun memetik. Namun sang pemilik memergoki. Sang pemilik sama sekali tidak marah, bahkan berkata, "Kenapa mencuri, jika meminta saja diberi?"

Sungguh, suatu sikap yang mulia. Dalam Serat Jamus Kalimasada, Samin Surosentiko mengatakan, "Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, mbedog colong." Ya, masyarakat Samin dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati kepada orang lain, dan mengambil milik orang (mencuri). Sebab, semua tindakan itu merupakan awal kerusakan di bumi.

Ketika ditanya soal kejujuran, Hardjo Kardi, 'kepala adat' Samin, mengatakan, "Kejujuran adalah segalanya. Kejujuran harus menjadi dasar dan pegangan bagi manusia untuk mendapatkan kekuatan. Jangan pernah dengki dan iri hati. Semua manusia sama. Membedabedakan manusia tabu dalam mayarakat kami."

Secara eksplisit, ucapan indah itu mengindikasikan mereka senantiasa menerapkan sikap toleransi dan pluralitas. Bandingkan dengan fenomena yang acap menghinggapi manusia saat ini. Hampir setiap hari kita disuguhi tindakan amoral dari berbagai pihak. Sungguh ironis.

Bangsa yang tersohor dengan kesantunan dan kesopanan sudah bermetamofosis menjadi bangsa kurang beradab, jika tidak boleh dikatakan bangsa amoral dan biadab.

- Abdullah Hanif, pemerhati budaya asal Blora, kini mukim di Bantul

Minggu, 09 Juni 2013

Jamus Kalimo sodo

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.
ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.
1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada
2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil
3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena  cara pandang setiap orang tidaklah sama.
Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:
Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:
1.KaDonyan(Keduniawian).
ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.
2.   Ka Hewanan ( sifat binatang).
ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.
3.   KaRobanan.
Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.
4.   Kasetanan.
Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.
5.   KaTuhanan.
artinya kosong
Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Kakang Kawah Adhi Ari-ari

Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa. Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah.
SEDULUR PAPAT LIMA PANCER Njupuk sumber saka Kitab Kidungan Purwajati seratane , diwiwiti saka tembang Dhandanggula kang cakepane mangkene :
Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang Ing tembang dhuwur iku disebutake yen ” Sedulur Papat ” iku Marmati, Kawah, Ari-Ari, lan Getih kang kaprahe diarani Rahsa. Kabeh kuwi mancer neng Puser (Udel) yaiku mancer ing Bayi.
Cethane mancer marang uwonge kuwi. Geneya kok disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari-Ari lan Rahsa kuwi?. Marmati iku tegese Samar Mati ! lire yen wong wadon pas nggarbini ( hamil ) iku sadina-dina pikirane uwas Samar Mati. Rasa uwas kawatir pralaya anane dhisik dhewe sadurunge metune Kawah, Ari-Ari lan Rahsa kuwi mau, mulane Rasa Samar Mati iku banjur dianggep minangka Sadulur Tuwa. Wong nggarbini yen pas babaran kae, kang dhisik dhewe iku metune Banyu Kawah sak durunge laire bayi, mula Kawah banjur dianggep Sadulur Tuwa kang lumrahe diarani Kakang Kawah. Yen Kawah wis mancal medhal, banjur disusul laire bayi, sakwise kuwi banjur disusul Metune Ari-Ari. Sarehne Ari-Ari iku metune sakwise bayi lair, mulane Ari-Ari iku diarani Sedulur Enom lan kasebut Adhi Ari-Ari Lamun ana wong abaran tartamtu ngetokake Rah ( Getih ) sapirang-pirang. Wetune Rah (Rahsa) iki uga ing wektu akhir, mula Rahsa iku uga dianggep Sedulur Enom. Puser (Tali Plasenta) iku umume PUPAK yen bayi wis umur pitung dina. Puser kang copot saka udel kuwi uga dianggep Sedulure bayi. Iki dianggep Pancer pusate Sedulur Papat. Mula banjur tuwuh unen-unen ” SEDULUR PAPAT LIMA PANCER ” 0 Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak. Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa.
Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah kang kabeh mau bisa dibabarake kaya ukara ing ngisor iki: Amarah : Yen manungsa ngetutake amarah iku tartamtu tansaya bengkerengan lan padudon wae, bisa-bisa manungsa koncatan kasabaran, kamangka sabar iku mujudake alat kanggo nyaketake dhiri marang Allah SWT. Supiyah / Kaendahan : Manungsa kuwi umume seneng marang kang sarwa endah yaiku wanita (asmara). Mula manungsa kang kabulet nafsu asmara digambarake bisa ngobong jagad. Aluamah / Srakah : Manungsa kuwi umume padha nduweni rasa srakah lan aluamah, mula kuwi yen ora dikendaleni, manungsa kepengine bisa urip nganti pitung turunan. Mutmainah / Kautaman : Senajan kuwi kautaman utawa kabecikan, nanging yen ngluwihi wates ya tetep ora becik.
Contone; menehi duwit marang wong kang kekurangan kuwi becik, nanging yen kabeh duwene duwit diwenehake satemah uripe dewe rusak, iku cetha yen ora apik. Mula kuwi, sedulur papat iku kudu direksa lan diatur supaya aja nganti ngelantur. Manungsa diuji aja nganti kalah karo sedulur papat kasebut, kapara kudu menang, lire kudu bisa ngatasi krodhane sedulur papat. Yen manungsa dikalahake dening sedulur papat iki, ateges jagade bubrah. Ing kene dununge pancer kudu bisa dadi paugeran lan dadi pathokan. Bener orane, nyumanggakake

Wong Kanung antara Mitos,Cerita dan Legenda di tanah Jawa

Sejarah Kawitane :
Ana Wong JAWA lan Wong KANUNG
dening : Mbah Guru
Peta Jawa Dwipa
I. Jaman JAMAJUJA (Puluhan ewu tahun kepungkur)
Dhek jaman semana Pegunungan Kendheng kuwi wujude ana pegunungan 2 (loro):
1. Pegunungan Kendheng Kidul, karan Pegunungan Kendheng tuwa.
2. Pegunungan Kendheng Lor, karan Nusa Kendheng.
1. Pegunungan Kendheng Kidul
Kuwi dununge wiwit saka wetan Pegunungan Kabuh, Kabupaten Jombang, mbanjeng mujur mengulon tutug Pegunungan Masaran, Kabupaten Sragen.
Sabab saka anane lindhu prakempa Gunung Lawu jaman sangang ewu tahun kepungkur, ndadekake Pegunungan Watujago bengkah omblah-omblah mujur mengulon; wasana dadi Lembah Ngawi kanggo dalan iline Bengawan Sala nrabas menggok ngalor tutug Cepu.
Sakdurunge ana lindhu gedhe, Pegunungan Watujago tutug Pegunungan Masaran kuwi dienggoni menusa sing isih wuda mblejed, wujude kaya kethek-rangutan gedhe pangane rupa kewan: kodok, kadal, ula, cacing, jangkrik, walang, sarta woh-wohan: mulwa, srikaya, mete, dhuwet, popohan, nanas lan liya-liyane.
Kabeh mau mung cukup ngapek utawa nyekel ning alas panggonane urip neng kono. Panggonane turu ning gowok sing dhuwur utawa pang-pang gedhe, durung ana sing wani turu ning guwa; sabab guwa-guwa kuwi mesthi dienggoni macan gembong. Wong mau yen mati bangkene diumbar ngenggon kono nuli ditinggal lunga, wekasane diothel-othel dipangan kewan galak; balunge pating kececer ning kana-kana katut banjire Bengawan Sala padha nyangrah ning mbereman Gemolong, Kalijambe, Kabupaten Sragen, wasana kurugan lumpur lan padhas linede Bengawan Sala, uga ana sing tutug mbereman Ngandong, Kabupaten Ngawi.
Wong pulo liya sing wis padha duwe tata-budaya, olehi ngarani wong ngono mau aran Wong Legena. Uga ana sing ngarani Gandaruwo. Ana maneh sing ngarani Kethek Limuri.
2. Pegunungan Kendheng Lor
Pegunungan Kendheng Lor (Nusa Kendheng) watara limang ewu taun kepungkur wis dienggoni wong sing luwih maju tinimbang wong Legena, wong-wong mau wis bisa gegaweyan gaman-watu diasah landhep. Nusa Kendheng kuwi nalika semana isih wujud Pulo gedhe cawang telu kang kinilung Teluk Lodhan lan Segara; ing sisih wetan ngongkang Telok Lodhan lan Segara Kening. Sisih kidul keledan Segara Selat Kendheng-Kidul lan Segara Teluk Lusi. Sisih kulon Segara Teluk Serang kang tepuk karo Segara Selat Murya. Sisih lor Teluk Juwana lan Samodra Jawa kang jembar lerab-lerab. Gunung Murya isih wujud gunung geni dhuwur-ngukusan, dikilung segara.
Nusa Kendheng kuwi ora duwe tanah ngare lembah banthak tadhah udan kang ngembong banyu; wujude mung pegunungan alelengkeh jurang lan gompeng; ing sawetara gompeng ana guwa-guwane padhas sing jembare mung sarompok teba. Neng bumi Nusa Kendheng kono kuwi ora ana thethukulan pari lan jumawud, sing ana mung jalinthing, canthel, lan jagung-kodhok kang thukul subur neng lelowah sing ngembes; wohe dadi pangane kethek, bethet lan bantheng. Ning alas kono lebeng wite: jati, trenggulun, sawo-kecik, mete, klethuk, lan mulwa.
Gisike-pesisir nggenggeng wit: krambil, bogor (tal), jambe. Pesisire sing wujud rawa-embet klethukulan: rembulung, bongaow, sarta brayo kang nrecel riyel. Ning punthuk pegenengan sing dhuwur-dhuwur ketel suket-kalanjana lan alang-alang sing dienggoni grombolane bantheng. Bantheng wadon aran Jawi. Sing gemati banget (jawa banget) ning pedhet-pedhete. Ing wayah bengi jawi-jawi mau yen padha turu padha kupeng adu bokong karo jawi-Jawi liyane ngilung pedhet-pedhete. Dene bantheng-lanang sing mbenguk padha kekiter njaga grombolane, aja nganti dimunasika kewan-galak.
Nalika semana Pegunungan Kendheng Lor kuwi wis didunungi menusa wong asli pribumi kono. Dedege endhek pawakane cilik, kulite nembaga. Kauripane isih wlaha lugu deles, nanging wis nduwe kemajuwan. Tatabudaya gegaweyan; sandhangane rupa cawed saka lulup waru diperut-alus dienam, utawa lulang kewan diucel nganti lemes. Uripe sagotrah manggon ning guwa-guwa padhas mau, kekancan karo asu-gladag sakirike sing wis padha kawong lulud melu manggon cedhak guwa kono.
Bocah-bocah cilik karo kirik kerep padha gojeg kekuwelan nanging nyakote ora tenanan, mung padha ngos-ngosan pating krenggos. Panguripane wong-wong mau saka kekrapa, nyelog, memed, lan mbebedag-ajag. Gamane rupa payal, panah, bedhor, sing digawe saka watu-jae kempling diasah mlingir landhep banget. Yen luru pangan asu-asu kuwi mesthi melu kekinthil utawa jejigar sesanderan ngoyak kewan nuronan, uga sok melu nyelog ndukiri palapendhem-alasan. Oleh-olehane pangan digawa mulih dirantengi mung dikoprok thok, yen wis mateng nuli dioser-oseri awu rencek-sangkrah segara dadine mbanjur krasa asin; nuli dipangan kepyah-kepyah sabrayate uga asu-asu sakirike padha melu mangan bebarengan. Genine entuke saka wit kang kobong disamber bledheg, pang-pang garing ana genine mengangah merga gesekan karo pang-pang liyane ing mangsa ketiga-ngangkang. Geni kuwi digawe totor marong rina-wengi ning sacedhake guwa kono; yen bengi ngiras digawe memedeni kewan galak supaya ora wani nyedhaki guwa kono; kawuwuhan kewan-kewan galak kuwi padha giris dijegogi asu-gladhak sepirang-pirang swarane mawurahan rame. Yen pinuju padhang rembulan wong-wong mau padha seneng-seneng ning sak njabane guwa, pada jejogedan lan gegandhangan sarta keplok-keplok lan anyul-anyul cangkeme mecucu kaya cupu, tunggak-tunggak utawa kayu sing ngglonthong dithuthuki digawe tetabuhan. Wong asli dhek jaman JAMAJUJA sing uripe isih sarwa deles prasaja wlaha ngono mau diarani Wong Suku Lingga.
SIGEG
II. Jaman KUNA-MAKUNA (Sadurunge Tahun Masehi, Nabi Isa el masih durung miyos)
Wong Nusa Bruney-kidul sing manggon ning saurute pesisire Teluk Sampit sarta neng tepis kiwa tengene Bengawan Sampit-hilir, ing sawijining wektu ketrajang pageblug-gedhe. Jare wong-wong Sampit kuwi padha digrowoti Setan Blarutan-sogrok weteng; nganti akeh banget wong-wong sing padha mati, luwih-luwih bocah cilik sing isih demolan. Wong-wong sing isih urip padha miris banget, nuli padha ngungsi minggat ngumbara lelayaran mengidul nyabrang samodra Bruney; tumuju ning Nusa Kendheng. Setan Blarutan ora wani nyabrang samodra nututi wong-wong ngungsi mau, jare wedi kesiku Bathari Hwa Ruh Na, ratune Jim-Samodra.
Mangkate wong-wong ning Nusa Kendheng dipangarsani dening Kie Seng Dhang, sawijining wong tuwa Sampit sing wegig lan akeh pengalamane, wong sing jangklanglana ning manca negara. Sawise lelayar sepuluh dina sepuluh wengi, ing wayah pajar bang-bang-wetan katon regemenge Gunung Nusa Kendheng (saiki Gunung Ngargapura Lasem); gisik sawetane Ngargapura katon sesawangan (pemandhangan, saiki dadi desa Pandhangan) kang ngresepake pandulu. Puncake Gunung Ngargapura katon ampak-ampak memplak, langit resik ngalela warnane biru-lasuardi; ombak agilir-gilir lindhuk nyempyok gisik pesisir sawetane Ngargapura.
Yaaa neng bumi kono kuwi wiwite wong-wong Sampit padha ndarat cakalbakal dadi bangsa-anyar, aran Wong Jawa.
Let sapenginang (wong-wong wadon Sampit padha seneng nginang nglenthusi woh jambe sing isih enom, arane Mucang), prau-prau mau wis padha mepet gisik (palwa-palwa = palwangan. Plawangan, saiki dadi desa Plawangan), para Pandhega mbuwang dandhan padha ndokok (menaruk-naruk, saiki dadi desa Narukan) praune jejer-jejer urut gisik mbanjeng mengidul. Nenek-nenek padha ndisiki mudhun saka prau kanthi mbuwang susure tepes-jambe ning segara, minangka sarat mbuwang sebel saka negarane. Nyi Seng Dhang nguculi udhete ngrogoh cepuk isi lemah-lebu saka bumi Sampit, disawurake ning gisike bumi Ngarga Kendheng; nuli sembahyang sujud sumungkem Pretiwi lan tumenga Angkasa. Wong-wong wadon liyane padha melu sembahyang bebarengan, ing pamuji: “Muga-muga sagotrah krandahe sing padha neneka kuwi padha entuka Kabekjan lan Karahayon pindhah tetruka ning bumi kono, tulusa trah-tumerah turun-tumurun bebranahan nganti pirang-pirang jaman dadi bangsa-anyar neng Nusa Kendheng.”
Wong-wong lanang nuli padha nusul munggah dharatan luru papan panggonan sing nyangkleg ning Tuk, kanthi enthuk pituduh lan pangeguh saka kakek Kie Seng Dhang sing lakune wis sempoyongan astane digandheng putune Putri-kinasih umur 12 tahun; praupane ayu pindha golek-kencana, asmane Nie Rah Kie.
Kakek Kie Seng Dhang mlaku nusup-nusup ning alas bebondhotan, sawise oleh papan kang cocog lan gathuk nuli prentah ning kabeh krandahe diutus mbubak grumbul nebang kekayon digawe teba. Putri Nie Rah Kie weruh kembang warnane putih-memplak anjrah nedhenge medem uga ana sing isih kundhup gandane amrik-wangi, wite pating grembel ngoyod ning gompeng. Sang putri kesengsem banget nuli matur ning Eyange. “Besuk yen wis duwe omah lan karasan arep nandur kembang sing warnane putih ngresepake banget ngono kuwi.” Kembang mau dijenengke kembang Melathi dening Sang Putri.
Watara patang sasi alas kuwi wis dadi papan-pomahan lan pekarangan; nalika kuwi tepak mangsa Labuh wayahe boros padha trubus, uler jati padha dadi ungker, woh-wohan padha medhohi, palapendhem akeh sing isih bentet; ndadekake wong-wong seneng ayem ngrasa ora kekurangan pangan.
Minangka kanggo mengeti asal-usule Kie Seng Dhang kuwi saka desa Tanjung-matalayur sawetane Teluk Sampit bumi Nusa Bruney pesisir kidul, mula punjere desa cakal bakal sing didunungi Kie Seng Dhang sagotrah-krandahe mbanjur dijengke desa Tanjungputri (saiki dadi desa Tanjungsari, Kecamatan Pandhangan/ Kragan Kabupaten Rembang).
Sawise dadi karas-pekarangan lan pomahan, ing sawijining dina wong-wong mau padha ngumpul ning Balepaguyuban Tanjungputri, perlu ngrembug Tatapranata lan Tataraharjane desa disesepuhi kakek Kie Seng Dhang. Giliging gawe putusan:
  1. Ngangkat Kie Seng Dhang diwisudha dadi Sesepuh lan Dhatu Tanjungputri ing salawase Urip, mrenata bumi Pegunungan lan Pesisire Ngargapura, wiwit Pandhangan tutug teluk Lodhan sing gisike wujud Wedhi-malela. Teluk kuwi nggenggeng alase wit Pung kang ketel sirung, ing sisih wetan ana bregade wit Pung-gedhe banget cacahe ana telu (=Sam, saiki dadi desa Sampung).
  2. Bumi Nusa-Kendheng diganti aran: Tanah Jawi, nulad arane Bantheng-wadon (jenenge: Jawi) sing dikramatake dening wong Lingga.
  3. Awake dhewe kuwi wis ora aran wong Sampit maneh, ngganti aran; wong Jawa, Nulad watake bantheng-wadhon kang jawa-banget (=gemati, ngerti, wigati) mring pedhet-pedhete. (Bumine aran: Tanah Jawi, menusane aran: Wong Jawa).
  4. Wong-wong kuwi nuli menehi tetenger Tahun, wiwite dadi Wong Jawa, diarani (Tahun Jawa Hwuning: 1 = 230 tahun sakdurunge tahun Masehi); sarta digawekake Lambang-Reca watu-item gedhene sak-menusa, pethane Kie Seng Dhang ndodhok ning Pongol sawetane Gunung Tunggul. Para tetuwa diwajibake nganggo kalung rambute dewe ditampar, lan diwenehi mendhel/ gandhul singg digawe saka Watu-jae wilis gedhene sajenthik-manis; memper recane Kie Seng Dhang.
Wong-wong mau padha Prasetya-Suci
  1. Wong Jawa turun-temurun tutug Jaman apa wae tetep padha ngrungkepi Tatapercayaan-Suci Hwuning, naluri saka leluhur Nusa Bruney bangsa Chaow (=inggatan=ngumbara) saka Nusa-Hainan; jaman Jamajuja 3000 taun kepungkur (1000 taun sakdurunge Nabi Isa el Masih miyos). Guru-guru Agung bawana Masriki uga durung miyos neng Alam-ndonya, yakuwi: 1. Laow Tze Tao, 2. Hud Tze Buddha, 3. Kong Tze Khonghucu. Wondene asal-usule bangsa Chaow sing kawitan kuwi wong saka negara China, tepise bengawan Yang Tze Kiang udhik diapit Pegunungan Kwen Lun lan Pegunungan Tang La, Propinsi Ching Wai. Wong-wong mau sumebar mengidul ning bumi Tiongkok-Kidul (Nalika 4000 taun kepungkur=2000 taun sakdurunge taun Masehi), ngliwati sakidule Pegunungan Yun Lin. Ngliwati Propinsi Yunan, Propinsi Kwang Sie, Propinsi Kwang Tung. Nuli nyabrang segara munggah dharatan Nusa-Heinan, sabanjure nuli nyabrang mlebu Nusa-Bruney; sumebar anjrah dadi banbgsa-anyar suku Dhayak rupa-rupa jenenge manut arane Bengawan-bengawan kono (Barito: Maanyan-siung. Kayan: Apokayan, Kenya. Segah: Segal. Maham. Punan. Sampit). Sawise dadi wong Dhayak Sampit nuli ngumbara maneh nyabrang samodra ngancik Nusa-Kendheng, malih ngganti aran: Bangsa Jawa.
  2. Ing mbesuk Wong-wong Jawa neng Negara ngendi wae tansah padha nguri-uri ngagungake Ke-Jawane, lan mekarake Senibudaya Jawa.
  3. Wong Jawa sing nyingkur/nyepele ke-Jawa-ne bakal dadi wong Jawa-jawal sing ora nduwe Dhangkel lan Oyod-lajer. Uripe tansah Nglindur lan Mbangkong nganti ngaya ngayal-andupara, nguber kaendahane Jodhog-layung ing wayah surup Sandyakala.
Kakek Kie Seng Dhang ngasta pemrentahan Banjar (=desa gedhe) Tanjungputri genep 30 taun, yoswa 90 taun wis wiwit loyo lan ngrasa wegah; pamrentahan nuli dipasrahake Putri Nie Rah Kie kanthi diwakili garwane yakuwi: Bandhol Hang Lhe Lesy kepala Pelaut pesisir Pandhangan sapengidul. Bareng Putri Nie Rah Kie nyekel pangwasa Banjar Tanjungputri, bandhol Hang Lhe Lesy nggawe pranatan Pemrentahan: Sang Putri Nie Rah Kie dikeker dipingit sajrone Tamansari Kedhaton, ora ana wong lanang sing kena meruhi ragane (praupan lan blegere) Sang Putri; kejaba garwane lan putra-putrine sarta para Emban. Undhang-undhang pranatan Pemrentahan didhawuhake saka Kaputren kedhaton Tanjungputri Kraga (=ngeker raga=kerraga=keraga; saiki dadi Kragan) liwat Emban-keparak; nuli diterusake ning Nayakapraja-priya.
Sawise Kie Seng Dhang seda layone ditunu, awu layone dikubur sacedhake Tuk/ sumberan lan didodoki tetenger watu mecongol diayomi wit Wringin-Brahmastana. Minangka Leluhur (=Dhanhyang) sing cakalbakal desa kono, mula asmane Kie Seng Dhang dipepundhi Trah tedhak turune lan kawula-rakyate; panjenengane minangka Dhanhyang Pundhen kanthi dipengeti tembung “Tuk” ning kabeh desa diganti tembung Sendhang. Ngapek saka tembung Seng Dhang (Yakuwi: Sendhangmulya, Sendhangwaru, Sendanggayam, lan liya-liyane).
Reliqe (200 taun durung Masehi) dirawati dipepetri Trah tedhak turune digawa ning negara liya digawe tumbal dipendhem ning Taman Pundhen Agung. Wong-wong Tanjungputri yen mati layone ditunu ning gisik Pandhangan, awu-layone dilarung dikelemake ning segara. Asmane suwargi Putri Nie Rah Kie disungging dening tukang Patung wujud Reca-emas didokok ning candhi gunung Tunggul.
Pamrentahan Kraga Tanjungputri klakon madeg nganti pirang-pirang turunan ora ana sambekala, saben ganti Pemimpin mesthi milih Putri kang Witjaksana trah-tedhak turune Putri Nie Rah Kie; lan uga ngeker-raga ning Taman Kedhaton Tanjungputri. Wong-wong Jawa Kraga kuwi uripe wis padha seneng-ayem, sebab padha cepak rejekine sembada sandang pangan lan bale-pomahane, sarta pada tetep ngrungkebi ngluhurake Tata Budidaya Suci Jawa Hwuning.
SIGEG
Nalika jamane wong-wong Sampit ngumbara ngungsi pindhah ning bumi Nusa Kendheng Ngargapura, iwak Pesut (=iwak Lodhan Bengawan Sampit sing lulut karo Menusa) akeh sing padha melu atut pindah ngumbara; amnggon ning segara Teluk sakidul wetane Gunung Ngargapura, sing wasana Teluk mau mbanjur karan dadi Teluk Lodhan. Nalika jaman semana gisike Teluk Lodhan mau sepi mamring tidhem-premanem durung kejamah menusa; sing manggon bumi Teluk kono mau mung sarupane mauk-segara lan manuk-alas; sarta penyu lan bulus sing arep padha ngendog. Kadhang kala ana Jawi (=bantheng wadon) alas-kono, karo pedhete pada dhede klekaran ning pawedhen ngangetake awak; lawas-lawas Jawi karo iwak Lodhan kuwi padha kawong bisa urip rukun ning gisik kono. Babon iwak Lodhan yen arep manak saben dina nyrondholi nyurungi ganggeng-sangu sing tuwuh anjrah pating krembyah ning segara Teluk kono diunggahake ning gisik; ganggeng-sangu ning ngumbruk ning kono nuli dipangan Jawi sing nedhenge lagi nyusoni pedhete, ndadekake awake krasa seger susune mangkah-mangkah. Bareng babon Pesut krasa arep nglairake nuli nglangi mlumah sarta ngambang, Duplonge (=bayi Pesut) lahiir krogal-krogel ambegan nyerot hawa tumumpang ning wetenge biyunge; Dhuplong kuwi sawise bisa nglangi nuli munggah gisik kanthi gampang ora kesrimpet sangu sing pating krembyah; duplong kuwi arep dhedhe ngangetake awak. Bareng mambu gandane susu Jawi nuli krogal-krogel marani babon Jawi sing lagi nglekar nuli ndesel-ndesel ngenyut susu sing mangkah-mangkah kuwi. Babon Jawi ora kaget mandar aring sarta ndilati Dhuplong sing isih gupak banyu ari-ari; sanalika pedhet Jawi mandar nggeblas lunga lan gebres-gebres sabab mambu gandane ari-ari dhuplong, nuli nyingkir marani sangu nyengguti pupuse sing isih enom-enom. Bareng si Dhuplong wis wareg nggone nyusu nuli kosal-kosel marani biyunge sing isih nunggoni ning banyunan segara.
Pesut sing padha bebarengan ngumbara ngalih manggon Telok Lodhan kono mau sasuwene 130 taun, wis padha nak-kumanak tangkar-tumangkar uripe padha  jenak-aring kumpul kambi kewan rupa-rupa ning teluk kono. Karo wong Kraga Tanjungputri sing pinuju ning segara, pesut-pesut mau mandar isih wani nyedhak sarta lulut nyrondol-nyrondol.
Wong Jawa Kraga yen luru pangan ora gelem nglanjak tutug Teluk Lodhan sing dienggoni Pesut lan Bantheng sing padha urip rukun mengkono mau, apa maneh ngganggu utawa mateni kewan loro kuwi; wong Jawa mandar sirik lan wedi banget ning pamanti-wantine Dhanhyang luluhur: “Anak-putu Kraga aja nganti sing munasika Pesut lan Jawi kuwi, apa maneh nganti mateni.” Wong jawa tedhak turune wong Sampit mau sasuwene 130 taun uga wis padha bebranahan sumebar sepegunungan Ngargapura, dedunung gegobrolan-gegrombolan sagotrah-krandahe. Nalika semana wong Jawa mau wis padha ingon-ingon wedhus-kacangan entuke saka mbasangi cempe-alasan, diipuk-ipuk digemateni dicancang ning cagak amben, kumpul sajromah karo menusa. Bareng wis dadi wedhus bisa lulud nganti nak-kumanak bebranahan, wedhus-wedhus kuwi dikandhangi ning karasan dikilung bethek sarta dicepaki rambanan; rina wengi dijaga asu-gladhak sing wis pomah lan mendara. Wong-wong pomahan nggone nduwe pikiran ngingu wedhus ngono kuwi, perlune yen nduwe gawe butuh masak daging kanggo lawuh-nyomok ora ndadak nunggu dhisik ajag kewan ning alas. Asu-gladhak sing wis ewonan taun urip kumpul karo menusa dijak ajag, njaga omah njaga rumangkang lan rewang gawe liyane mandar mung diumbar turu ning latar ngringkel utawa ning emper-gandhok.
Sasuwene wong Jawa lan iwak-Lodhan (Pesut-pesut) kuwi dedunung neng bumi Ngargapura wis 130 taun (Taun Jawa-Hwuning wis taun 130 = Tahun Masehi durung ana), wektu kuwi ana wong neneka pindhahan saka Nusa Tempabesi ndharat ning Tanah Jawi pongol Lodhan segara kening, bebadra bubak bumi alas Pung cikalbakal nggawe desa urut pesisir sawetane Teluk Lodhan; desa mau karan desa Sampung. Wong neneka kuwi wis akeh sing pinter nggawe prau-gedhe, cekung dhasare awak-prau lan anthok-cocoke sing digawe saka kayu-pung sing kuwat krendhem banyu asing (Ing jaman saiki tedhak-turune wong-wong mau padha dadi wong ahli nggawe prau ing Desa Bulu, Kecamatan Bulu, kabupaten Tuban). Liya kuwi wong-wong mau uga pinter nenukang maneka-warna; dadi Undhagi tukang kayu, Pandhe tukang wesi, Gemblak tukang kuningan, Sayang tukang temnbaga, Kundhi tukang grabah lan Jlagra tukang umpak-watu sakane omah; tata-pakaryane wong-wong mau aran Kabudayan Sampung.
Kanggo njembarake papan panggonane, wong-wong mau padha nekad ngrambah alas nglanjak bumi Teluk Lodhan. Wong saka Nusa Tempabesi kuwi Kapercayan/Agamane ngadhep-manembah ning Dewa Srengenge/Geni, dewa Samodra/Banyu, dewa Angkasa/Angin, dewa Bumi/Naga Ijo. Wong-wong kuwi ora sirik mangan daging Bantheng lan iwak Pesut; nggone nglanjak bumi Lodhan kuwi mandar ngrasa luwih kebeneran sabab bisa mbebedag-ajag lan misaya iwak kanthi sakatoge. Kang mengkono mau ndadekake kewan-kewan kang biyene padha urip tentrem aring malih dadi kobrak giris kesid; temahan padha minggat sumebar saparan-paran. Pesut lan Bantheng mau padha minggat sumebar mengidul nyabrang segara tumuju ning bumi Nusa Kendheng Kidul, sing alase isih lebeng ketel gung liwang-liwung durung dijamah menusa; segarane cethek ombake lindhuk akeh iwake cilik-cilik maneka warna, ndadekake jenake Pesut-pesut mau gampang oleh pangan. Grombolane Bantheng liyane ana sing terus ngumbara ngidul-ngetan nyabrang segara Supitan-Kamput, nuli terus munggah ning alas-alas gerotan Pegunungan Brahma-Mahameru sapengetan tutug alas gerotan Pegunungan Raung (Saurute Bengawan Brantas dhek Jaman-Jamajuja isih wujud Segara-selat kang ngilung Gunung Kawi, kamput, Ajar-smara, lan Penanggungan.
Desa Sampung sawise madeg 75 taun ngalami kertaharja, wonge padha berag-berag omahe panggungan bebanjengan saurute pesisir, praune mangkal jejer-jejer mengulon tutug Teluk Lodhan. Sasuwene 75 taun kuwi wong-wong Sampung mau wis akeh sing padha sambung srawung karo wong Kraga-Tanjungputri, mandar wis akeh sing padha campur jodhon sesilangan. Kabisane gegaweyan wong Sampung padha ditulad wong-wong Kraga. Sabalike Kapercayan-suci Hwuning lan Kabudayan wong Jawa Kraga-Tanjungputri padha ditulad wong Sampung, sebab ragade Upacara-Hwuning luwih entheng lan irid; ilmune luwih blag-blagan Kanyatan gampang. Beda karo Agama-kapercayaane wong Sampung kang sarwa andupara khayal, ilmune rumit ruwed pujamantrane dawa ngalur-alur ndrememel ngeselake; ragade Tata-Upacara akeh bange, sajene ngambrah-ambrah. Kang mengkono mau ndadekake wong-wong Sampung padha bosen, wekasane mbanjur malih seneng ngalih ganti ngrungkepi kapercayan-suci Hwuning, cawuh luluh karo kabudayan Jawa Kraga Tanjungputri; mandar mbanjur gemang ngakoni aran wong Sampung-Tempabesi maneh, malih ngaku dadi wong Jawa-Sampung.
Ing taun Jawa Hwuning 205, wong-wong Jawa-Sampung wis akeh sing padha misah maneh, bebadra sumebar ngidul-ngetan butuh panggonan sing luwih subur loh jinawi ning bumi Nusa Mahameru; srana nyabrang Segara-supitan Kamput kang jembar lerab-lerab wiwit Teluk-Popoh mengalor; mberemane Segara-supitan dadi rawa bening lan rawa Gesikan terus mengalor ngliwati Tulungagung, Kedhiri lan Kertasana; tutug Megaluh (Jombang) tumlaweng menggok ngetan ngliwati Plosso tutug Teluk-Tarik anjog segara Medunten. Bumi Nusa Mahameru sapengetan tutug Pegunungan Raung mau diganti aran dijenengake Nusa Jawa-Pegon, wonge uga karan wong Jawa-Pegon.
Ing taun Jawa-Hwuning 205 kuwi wong Jawa Kraga sakwise Pitung-turunan (Anak, putu, buyut, canggah, wareng, udheg-udheg, gantung, siwur) wiwit saka Putri Nie Rah Kie, cacah jiwane wong kono mau wis dadi akeh banget; mandar omahe wong Pandhangan tutug Narukan wis jejel riyel. Mulane wong-wong mau banjur padha misah tertruka ning bumi sengkaning-gunung saurute Pegunungan Ngargapura kang lelowahe subur banget kethukulan pring-ori dhedapuran bunge nrecel riyel. Ring ilen-ilen banyu kang muleg-muleg selane watu-watu akeh iwake-jambrung pating sriwed nyisili lumute watu.
Semono uga wong-wong Trah-tedhake Putri Nie Rah Kie krandhan gisik uga melu pindhah bebadra; sarehne wis kulina urip ning bumi Belahan mula gemang melu tertruka ning bumi sengkaning-gunung, milih panggonan sing nyangkleg segara yakuwi ning perenge Gunung Ngargapurasing sisih lor (Kecamatan Sluke) kang ngungkurake juran jero lan rungkud; desa kuwi disenengake: Terahan (Trah = tedhake Putri Nie Rah Kie). Bumi sing banthak wujud gisik mawa Teluk kanggo mangkal prau-prau manca sing padha mampir arep ngapek banyu omben, mbanjur katelah aran desa Pangkalan.
Wanita Terahan lan Pangkalan kuwi misuwur akeh sing manis-ayu, sarta isih padha nerusake naluri Adatcarane Wanita Leluhure ing Tanjungputri; wanita-wanita mau padha seneng nandur wis kembang Melathi kembange kanggo ngrengga raga yen dhong nekani Pahargyan, yakuwi nganggo cundhuk Melathi-sisir nyisip nglaweng ning gelungan, sesumping Melathi-ronyok, kalung ronce gegombyok kembang Kanthil; dene pedinane saben rampung reresik-awak mesthi cundhukan kembang Melathi kuwi. Tumrap wong-wong Priya kanggo renggan Omcen-oncen Surengpati dikalungake ning mendahake Keris. Yen pinuju dina Suci kanggo sawur-nyadran ning kubure Sembok-Semak, uga ning Pundhen-Leluhur Nyai Dhanhyang/Kaki Dhanhyang sing cakalbakal desa; disajeni ubarampe sajen sapepake lan karangan kembang Melathi sarta kutug dupa pratus-wangi.
Tutug jaman-saiki para Wanita Wirya Wicaksana sing rumasa isih Trah-tedhak Tanjungputri senajan dedunung ning negara kana-kana, senajan sauwit-wong uwit para Wanita mau isih merlokake nandur kembang Melathi; utawa ngrengga sarira ngagem kembang kang ngresepake-ati kuwi. Minagka sarat ngluhurake drajad, sarta mengeti memundhi asmane Putri Leluhure, yakuwi Putri Nie Rah Kie, Dattsu Dewi Sibah, sarta Maharani Bre Lasem I Dewi Indu Purnamawulan; lan Putri-puri Kriyan putra Eyang Mpu Guru Pr. Santibadra. (Suwargi putri Cempa Bie Nang Tie lan putri Malokhah uga sengsem melu ngagem kembang Melathi kuwi). Uga Raden Adjeng Kartini.
SIGEG
III. Jaman KUNA-KOBRA (Ing taun Jawa-Hwuning: 230 Masehi: 1)
Kacarita ing sawijining bengi nalikane wong-wong Pambelah Pandhangan lagi padha jejagongan ning gisik kang ngilak-ilak, padha omong-omong nyatur. Kawitane nggone ndarat Leluhure ning gisik bumi Pandhangan kono kuwi dietung-etung wis ana 10 = sepuluh turunan.
Ketitik neng blandar-tongciet dalem Pedhanyangan Tanjungputri ana toletan-enjet 230 dulit (=1 dulit = pendhak Labuh = 1 taun); toletan kuwi minangka papeling nggone ndarat Leluhure lawase wis ana 230 pendhak mangsa labuh (=230 taun). Nggone ngetung 10 tutunan kuwi wiwit saka Dhanhyang Kie Seng Dhang. Nalika padha jejagongan kuwi dumadakan wong-wong mau padha kaget sebab weruh Kaelokan: Ning langit tencebing cakrawala sisih lor-kulon ana sorote Lintang-kemukus nglandeng sumorod ngidul-ngetan, ngliwati sandhuwure segara Jawa lan segara Kening.
Wayah esuke wong-wong padha umyeg nyatur wahanane Lintang-kemukus mau; ana wong sing nyarawidekake ning Nujum sing waskitha, wedhar wasitane: “Neng Bawana negara Maghribi rajane lagi nglumpukake Kawulane mlebu ning kutha, perlu diwilang cacah-jiwane. Ana kang sejodho, sing lanang pagaweyane tukang-undhagi; sing wadon lagi ngandheg tuwa, wong mau ora keduman pondhokan mung entuk panggonan kandhang wedhus pinggir desa. Dumadakan ning kandhang kono wong wadon mau mbabarake jabang-bayi lanang; wecane Sang Nujum: “Besuk jabang-bayi kuwi yen wis diwasa bakal dadi Raja Binanthara-nyakrawati, nanging ora kagungan Keraton ora tau pinarak dhampar-kencana, ora kagungan prajurit kang asikep gegaman perang; nelukake musuh ora kanthi merangi lan milara, mung kanthi Perbawa (Ambek asih pari-tesnane). Gesange ora kagungan Wibawa (Kamulyan sugih rajabrana), mung nyandhang sapala kandhang langit kemul mega ngumbara ndlajah desa milangkori, medhar Wasita “Begja Rahayu”. Wong-wong Pambelah mengeng nggagas wahanane weca sing aneh banget ngono kuwi. Let seminggu sawise wong-wong Kraga padha weruh Kaelokan ngono mau, wong Sampung akeh sing padha ngimpi; rumangsane akeh iwak Pesut-Lodhan lan Bantheng padha ngamuk liwung ngrusak Banjar Sampung ngebrukake omah lan nguber-uber wong padha dipateni.
Ora gantalan dina sawijining bengi angler-anglere wong padha turu dumadakan ana prahara gedhe; angin sindhung-riwut segara Jawa lan segara kening kaya dilebur, alun gedhe gumulung nglanjak dharatan lan Teluk Lodhan; perenge Gunung Ngarga sisih wetan padha longsor. Thukule prahara gedhe ngono kuwi sabab Gunung Agung Sengkapura njeblug (Ing taun Jawa-Hwuning 230 = Masehi 1). Pulo Baweyan Sengkapura sirna separo, mblabare blegedaba muncrate lumpur-panas lan watu-watu mengangah kontal ning angkasa, sarta udan awu sumebar tutug ngendi-ngendi ngurugi Segara Jawa. Teluk Lodhan malih dadi dharatan Kragan, Sarang, Sedhan (Kabupaten Rembang). Segara Kening malih dadi dharatan Pesisir Lor Kabupaten Tuban. Ing sisih kidul nyisa mberemake kali-gedhe (Bengawan Solo) wiwit Kradenan ngglendheng mengalor tutug Cepu, nuli mbelok mengetan dadi bengawan Kethek; mbanjur amber dadi rawa Widhang tutug bumi-embet Pangkah/ Sidayu, iline muntah ning Segara-supitan Medunten.
In taun Masehi: 50 dharatan tilase Segara mau wis malih dadi alas-bebondhotan kaselanan palakirna warna-warna. Wong-wong Tanjungputri salore Ngargapura wiwit padha wani lan seneng bebadra bubak desa ning Pesisir-lor Segara kening, sing bumine sela-selane watu-gamping tutug tepise segara padha ngetuk, mbrubul banyune tawa bening nyarong. Bumi bubakan mau dijenengake, desa Mituk (Saiki dadi desa Beti = Bektiharjo).
Ing taun Masehi: 100, desa Mituk kuwi wis dadi Banjar gedhe mbanjeng mengalor ngliwati bumi pagenengan sing lemahe warna Kuning semu Abang; sarehne wis dadi Banjar gedhe tur nyangkleg segara, para Pambelah/ Nelayan nggawe plabuhan ning pesisire; plabuhan kuwi dadi bantarane para Pelaut/ Pedagang saka manca negara, padha gancol sarupane barang-kebutuhan bisa tinemu ning pasar Mituk kono. Misuwure ning negara-manca, banjar kuwi ora diarani banjar Mituk, nanging diarani banjar: Sitijenar. Wong-wong saka Tanjungputri Jawa-Hwuning kang cacah jiwane luwih akeh, padha saeka-praya ngangkat sawijining wong Wegig Wiled Trah-tedhak Tanjungputri, asmane Hang Tsu Hwan, diwisudha dadi Dhatu (kepala Adat) banjar Sitijenar. Nalika pamisudhan dikepkyakake, Dhatu Hang Tsu Hwan ngundhangake ning para Sumewa; papan Pasawuwan-agung mau didadekake punjere kutha Sitijenar, dijenengake Kutha Begja-Agung (ucape umum salah-kaprah ngarani Bejagung).
In taun masehi: 107, Dhatu Hang Tsu Hwan wis bisa ngirup Banjar-banjar pesisir-lor tanah Jawa, kutha Begja-Agung nuli didadekake punjer Pangesuhe banjar-banjar mau; dijenengake Negara Jawa Purwa. Wiwit jaman pamrentahan Hang Tsu Hwan wong-wong Nusa Jawa-Pegon kuwi wis akeh sing padha nggrancol ning Banjar Sitijenar, pangesthine Nusa Jawa-Pegon kuwi supaya luluh dadi siji karo negarane Dhatu Hang Tsu Hwan (Nggone ngarani ngaub pangwasane Dhatu Hang Tu-Ban = pamrentah Tuban.
SIGEG.
IV. Jaman JAWA-DWIPA (JAWA-Pegon lan JAWA-Purwa)
Ing taun Masehi: 110, bumi Jawa-Pegon kuwi dihoregake Lindhu prakempa marambah-rambah asale saka Gunung Kamput; gunung kang ngongkang Segara-supitan Kamput padha horeg ngengkrog-engkrog sora banget, bregad-gedhe pada rungkat rubuh pating slayah; perenge gunung-gunung pada longsor nglongsori Segara-supitan Kamput. Liya dina kawuwuhan Gunung Kamput njeblug ngetokake blegedaba bulah-bulah mawalikan mblabar ning Segara-supitan; udan awu sumebar tutug ngendi-endi. Wong-wong Sitijenar nyawang langit peteng kaya kesaput mendhung ngendhanu ngono kuwi padha miris banget, ora ana wani metu saka ngomah sabab bledug-awu ngampak-ampak mlepegi napas, godhong gedhang padha sengkleh kabotan awu nemplek nglapis lumahe.
Bareng wis klakon setaun kaanan sing mengkono mau wis sirep tidhem, Segara-supitan Kamput katon malih dadi ciyut kali sapralimane, ganti wujud dadi bengawan ambane bisa disabrangi nganggo gethek-gedebog; wong-wong menehi aran: Kali Brantas (Nalika Taun Masehi: 111).
Wong-wong Nusa pegon sangsaya wuwuh adrenge nggone nedya manunggalake negarane karo negara Jawa-Purwa, mula nuli padha usul ning Dhatu Hang Tsu Hwan. Saka kawicaksanane Sang Dhatu pamonthane wong-wong kuwi enggal dileksanani, kanthi disekseni wong-wong saka negara liya, Gembleng cawuh manunggale negara Jawa-Pegon karo Jawa Purwa (P = (aksara Jawa) = loro) dijenengake: Nusa Jawa-Dwipa. Nalika taun Masehi 115.
In taun Masehi: 385, wong-wong banjar Terahan sing cacah jiwane wis padhet, padha lunga misah bebadra cakalbakal ning bumi Argasoka, yakuwi perenge Gunung Ngargapura sing sisih kulon; papane ngongkang Segara-teluk, sing sisih lor kadhangan Punthuk Ngendhen, Kecamatan Lasem. Segara-teluk kuwi mbanjeng mengetan nuli mbelok mengidul urut perenge Pegunungan Argasoka, ning pepereng pegunungan kono kuwi akeh wite Pucang lan Resula blukange warnane kuning-gadhing tuwuh nggenggeng ledhung-ledhung. Saka bumi bubakan kono yen nyawang mengulon katon Pulo Maura dikilung segara, pulo kuwi wujud gunung-gedhe masung pucake mawa kawah-geni ngetokake kukus kumebul nglandeng ning langit; ing sisih kidule katon benggang karo pegunungan Sukalila-Prawata keledan Segara supitan Maura. Wong-wong bebadra kuwi dipangarsani kanoman umur 35 taun asmane Hang Sam Badra, sawijining Klana kang adoh tebane ning Sabrang lan Negara kana-kana. Mula kuwi dening wong-wong bebadra mau mbanjur ngangkat dheweke diwisudha dadi Dhatu ning kono; bumi cakalbakal kuwi katelah aran Pucangsula (Saiki tilase dadi desa Logadhing-Sriamba, Kecamatan Lasem). Sawise desa kono madeg 15 taun malih dadi Banjar-gedhe sebab akeh wong neneka saka negara Sabrang melu bebadra ning kono; wong-wong manca mau sawise kumpul srawung karo wong Pucangsula, temahan padha malih ganti seneng ngrungkepi Kapercayan-Suci Hwuning lan Budibudaya Jawa, wekasane mbanjur luluh dadi wong Jawa-Dwipa.
Wiwit bebadra dadi Wong Jawa ning Tanjungputri ing taun Jawa-Hwuning: 1 nganti bebranahan mencar sumebar sepegunungan Kendheng Ngargapura suwene wis 617 taun, durung ana wong Wegig gong Wicaksana mulangake medhar Larasing Kapercayan-suci Hwuning. Wong-wong nggone ngrungkepi ngedhep/ manembah Hyang Tata Maha Das kuwi yaa mung atut-grubyug kaprah lumrahe wong akeh padha krukunan nindakake Tatacara susilatama lan setya ning Negara. Lagi jaman madege banjar Pucangsula kuwi Kapercayan-suci Hwuning bisa dingerteni/diwikani dilelaras
dening para Wegig, para Pandhita; saka leladi pangastutine Panembahan Guru Dhatu hang Sam Badra kang merlokake nyambi mulang para Kasepuhan Kanung (=sengkaning gunung); ing taun Masehi: 387, manggon ning Pasraman punthuk Punggur Gunung Tapa’an (Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang).
Ing taun Masehi: 390, Dhatu Hang Sam Bandra nggawe plabuhan lan galangan-prau (=dhak-palwa) ning Sunglon Bugel utowo Gunung Bugel (Tilase saiki dadi pategalan lan kali aran Palwadhak; sakidule desa Tulis, Kecamatan Lasem). Prau-prau kuwi kanggo sesambungan Pemrentahan Pucangsula karo Banjar-banjar wilayahe saurute pesisir Jawa (Pantura), wiwit banjar-Losari teluk-Tanjung (Kabupaten Brebes), mengetan tutug banjar-Rabwan (Kabupaten Batang) lan Banjar-Tugu (Kabupaten Semarang), nuli banjar Purwata lan banjar-Tanjungmaja (Kabupaten Kudus), gisike pulo Maura sisih wetan yakuwi banjar-Tayu lan banjar-Blengon (Kecamatan Kelet, Kabupaten Jepara). Plabuan Pucangsula dumunung saelore galangan prau digawekake Gapura madhep mengulon ngadhepake Segara-teluk Kendheng (Saiki dadi desa Gepura) saka gapura kono digawekake ratan ndladag urut urut perenge Pegunungan Argasoka tutug punjere kutha Pucangsula.
Pangwasane Dhatu Hang Sam Badra dibantu Putra-putrine isih kenya yoswa 22 taun, rupane ayu banget pindha Widadari Wilutama; asmane Dewi Sie Bah Ha (=Sibah); sang Dewi ngasta pangwasa Angkatan Laut Segara Jawa-Dwipa kanthi kekuwatan Kapal-perang sing prajurite dumadi saka wong-wong kang kenthug kuwat lan pinter ulah kridhane perang, kanthi sikeb gegaman kang ampuh mawa racun-aneh; negara liya ora ana sing duwe lan ara ana sing bisa nggawe. Sang Dewi melu nylirani lelayaran ning samodra kanthi nitih Kapal-gedhe kang mligi dinayakani prajurit Wanita sing wanter lan kendel, uga sikeb gegaman kang mawa racun wujud Tulup-paser sing bisa nylorod adoh; sarta patrem-Tubrem yen disawatake musuh lamun mlesed, patrem mau bisa munyer bali maneh niba sacedhake sing nyawatake (Kaya bumerang). Wondene juru-mudhine sarta tukang welahe Kapal-kaputren mau wong lanang kang kuwat lan bandhol, nanging dipilih wong sing Peloh lan wis ilang prasa-Asmarane. Mula negara manca mau padha wedi lan sungkan ning Dewe Sibah lan negara Pucangsula.
Sang Dewi nggone ngwasani segara Jawa-Dwipa kanthi nggunakake kapal-perang kuwi perlu nganggo nglabrag nyirnakake Bajag-bajag kang gumendhung lan kumendel sing mung nggunakake prau-prau knothing sarta gaman pedhang lan clengkreng, dumeh praune bisa cukat rikat kanggo ngoyak prau-prau dagang memangsane utawa ndarat mrawasa Desa.
Bajag-bajag sing nggawe werid rengkede Segara-supitan Medunten kuwi wekasane sirna sa-Benggol-benggole lan sasudhunge. Wasana pesisir Segara Jawa-Pegon sisih wetan mau dadi tidhem lerem, banjar-banjar bisa bali madeg kanthi tata-tentrem sarta bisa sesambungan karo Pemrentahan Pucangsula.
Putri Sibah saliyane nyirnakake Bajag-bajag, merlokake narik Upeti ning kapal-kapal dagang kang liwat segara Jawa; isine kapal sing rupa beras lan pari sarta sembet-tenun cita-sutra uga gaman-pertukangan, ditarik upeti sapra-limane; sing gemang mbayar mesthi dilabrag ditelukake kapale dibeskup. Nakodha kapal sing rupane bagus utawa penumpang sing bagus mesthi ditawan dilebokake kamar-kamar Kaputren. Kawegigan lan Kaprawirane wong-wong bagus mau didadar dening Sang Dewi; yen bisa lulus pendadarane sarta bisa ngalahake kasektene Dewi Sibah rila dadi jatukramane. Sabalike yen kawitan didadar Kawegigan wis ora lulus, wong tawanan kuwi nuli diwetokake saka kamar pendadaran dipasrahake Nayaka-wanita kapal Kaputren; mangsa borong digawe apa kono. Ora nganti sesasi neng kamar-tawanan pangwasane Nayaka wanita mau, awake wong-bagus tawanan kuwi malih rusak ora kuwat ngglawat; wekasane nuli dijegurake samodra dadi mangsane iwak Undhuk-undhuk-gedhe kang rakus banget. Misuwure jare digawe sajen Ratune Jim Dhuyung-jaran, sing nguwasani Samodra Jawa-Purwa. Mula kuwi kapal dagang sing liwat segara Jawa gamang nggunakake Nakodha sing bagus rupane; dene wong bagus penumpang sing wani nekad mati-mati yen wis ngerti rasane ngalami nyatane, yaa sumangga mangsa borong!!! Asmane Dewi Sibah nganti kaloka ning negara Sabrang kana-kana, sang Dewi nganti diparabi: Mani Dattsu Asva Dev, tegese Mustjikane Dewi-bajag Dhuyung-jaran.
Wong-wong tanah Jawa wiwit jaman Kuna-makuna mula sing mung kulina mangan sega-jagung, sega-canthel, lan rupa-rupa palapendhem, sawise ngenal Pari lan mangan Sega-beras olehe narik upeti saka wong dagang negara Siyem lan Cempa lembah Bengawan Mekong, sang Dewi Sibah nuli mrentahake lan nyontoni wong-wong wadon Pucangsula diajak wiwit nandur pari lan adang sega-beras (wiwit taun Masehi 396), wiwi jaman kuwi wong-wong Jawa padha nganggep Dewi Sibah kuwi titise Widadari-pangan utawa Dewine Pari, iya Mbok Dewi Sri (Wong Sunda ngarani: Sang Hyang Seri). Uga ing sajrone taun 396 kuwi, ing sawijining dina kapale Dattsu Dewi Sibah dhog mangkal ning gisike Nusa Jawa-Dwipa bontos kulon wates gisike Negara liya bontos wetan, dumadakan ana wong bagus isih enom menganggo ciri Rsi marani kapale sang Dewi; wong kuwi nuli ditakoni Nayaka kapal Kaputren:
“Ana wigati apa? Asmane sapa? Saka ngendi pinangkane?”
Jawabe Rsi bagus:
“Perlu arep nunut ning Nusa Jawa-Dwipa, nedya mulang nyebar Agama Hindhu Shiwa. Asma: Rsi Agastya Kumbayani. Asal saka negara Menak, krajan Idriya-Satwamayu.”
Sang Rsi ditampa diwenehi panggonan ning senthong-tamu Kapal Kaputren; sawise kapal-kapale Dattsu Dewi Sibah mancal bali ning Nusa Jawa, Rsi Agastya nuli didadar Kawegigan sakehing ilmu dening Sang Dewi; sajroning telung dina bisa lulus. Nuli ganti didadar Kasektene lan Kaprawirane perang, jebule Sri Dattsu sing mandar kasoran nganti lemes daya kakuwatane; saking ngrasa wirang Dewi Sibah munthab bramantya mawinga-winga, nuli ngunus Curiga-racun kang bisa nggawe pati kanggo mungkasi pendadaran.
Sapandurat Dattsu-ayu nyawang praupan baguse sang Rsi netrane sing mulem-tajem, polatane tetep sumeh jatmika ora nggragap ora miris nyawang landhepe curiga; uga ora males bramantya sumringah ngangah-angah, mandar sorote netrane kang aliyep-asmara nrawung nembus jantunge Sang dewi; ndadekake panone Sang Dewi sumrepet peteng kantaka, raga lemes niba ning jrambah palagan; curiga gogrog uwal saka astane. Sang Rsi trengginas nyaut Sang dewi dibopong disarekake ning tilamrum; bareng Sri Dattsu punggun-punggun wungu marlupa, Sang Rsi nglelipur ngrerapu sarta nyepat-domba nagih janji sayembarane, nanging dileksanani yen wis tutug dalem kedhaton Pucangsula disekseni Rama-Ibu sarta para kadang kadeyan kawula-dasih.
Para Kenya Nayaka kapal kaputren padha rerasan ngungun banget, adat saben lagi telung dina wae wong Bagus-tawanan wis mesthi diwetokake dipasrahake ning Nayaka Putri; nanging wektu kuwi nganti pitung-dina pitung-bengi tawanan Rsi Bagus kuwi kok ora diwetok-wetokake; weruh-weruh jebul kapale wis padha labuh ning Pucangsula, Sang Dewi Dattsu wis runtung-runtung sekalihan karo Rsi Agastya tumuju ning Kedhaton dipethuk Rama Ibune. Dhatu Hang Sambadra sakulawargane padha mengayu-bagya karenan ing galih, dene Sang Putri wis entuk calok jatukrama isih enom bagus rupane tur sembada sakabehane. Pahargyan palakraman let telung dina nuli dikepyakake. Sang Rsi cumondhok kumpul Maratuwa nganti rong taun, mandar Dewi Sibah lagi karo-tengah pendhak wis ngemban mutra kakung, diparingi asma: Arya Asvendra. Rsi Agastya nggone arep mulangake Agama Hindhu Shiwa Maha-Dewa nedya diterusake dhasar Maratuwane maringi panggonan ning bumi Rabwan tutug Batur. Nanging sawise klebon ilmu Kapramanan Jawa-Hwuning saka Maratuwa lan saka Garwane, pikire arep mulangake Agama Hidhu Shiwa Maha-Dewa malih luntur; nedya diganti mulangake Agama Hindhu Shiwa Guru-Dewa, mikani Dhiri-pribadi lan jantraning dumadi; sarta pangastuti bekti ning Sembok-Semak.
In taun: 412 Masehi ana Klana Sramana Agama Buddha asama: Pha Hie Yen lelayar saka Nalandha India, nedya bali mulih ning Tsang-An (Tiongkok); dumadakan lagi tutug Samodra Jawa-Dwipa ana angin topan gedhe, praune nuli mangkal ning plabuhan Pucangsula nyuwun tulung lereb ning kono sasuwene angin prahara durung sirep; Sramana Hwesio Pha Hie Yen ditampa disesuba dening Dhatu Hang Sambadra, saben dina diajak wawan-sabda bab rupa-rupa pengalamane Sang Hwesio nggone lelana ning manca-negara. Hwesio Pha Hie yen nyritakake Piwulange Sang Guru Agung Sidharta Buddha Gotama, yakuwi: Sranane bisa manjing Nirwana supaya medhot blenggune kadonyan; kanthi liwat laku kang aran: Astha Arya Marga, tegese Laku Agung Wolu. Piwulang kuwi mirib Kapercayan-suci Jawa-Hwuning kang dirungkepi dening Pendhita-pendhita siswane Dhatu Hang Sambadra wong saka sengkaning-gunung, yakuwi: Sranane bisa nggayuh Katentreman supaya medhot Pangangsa-Pepenginan; kanthi liwat laku kang aran: Endriya pra Astha, tegese Tumemen ning Budipakarti Wolu. Mula Dhatu Hang Sambadra karo rayine Pandhita Jana-Bandra sayuk banget nggathukake intisarine piwulange Sang Buddha kuwi cawuh-luluh karo larase Kapramanan Jawa-Hwuning.
Ing taun Masehi: 415, Dhatu Hang Sambadra seleh kedhaton, pemrentahan Pucangsula dipasrahake Dewi Sibah diwisudha ditetepake dadi Dattsu-agung (=Prabu-putri). Rsi Agastya dadi Kepala banjar Rabwan lan banjar Batur tutug Pegunungan Dieng, kebawah negara Pucangsula, uga adhike Dewi Sibah asma: Dewi Sie Mah Ha (=Simah), kang dadi Adipati-anom Medhangkamulaan teluk Lusi (kabupaten Blora) diwisudha diangkat dadi Dattsu, dipindah ning banjae-gedhe Blengoh didadekake Keraton keling (Arane woh-bogor wadon sing wis tuwa-alot, yen isih enom diarani Siwalan). Saiki tilase dadi ara-ara Keratonan desa Blengoh, Kecamatan Keled, Kabupaten Jepara. Pangwasane Dattsu Simah diwarangkani kakunge aasma: hang Saburadhampuawang Segara Teluk Kendheng lan samodra Jawa. Sarta diemong diayomi Rama-paman Bhikku Buddha Kanung Janabadra ing Pasraman Tunahan. Nalika Dewi Sibah wis jumeneng dadi Dattsu Pucangsula, sang Dewi yasa Udhang-undhang tata Budibudaya Jawa Hwuning ditetepake dadi  Pranatane negara Pucangsula; saben sesasi sepisan diwulangke ning para Pandhita sengkaning-gunung Kendheng Ngargapura, manggon ning Kedhaton Pucangsula. Undhang-undhang kuwi dijenengake: Endrya pra Astha, ngrungkepi piwulange Ramane nggone nggawe jeneng Ilmu kuwi (Undhang-undhang ditetepake ing taun Masehi: 416). Para Pandhita para Kasepuhan nerusake mulangake Ilmu-pranatan mau ning para Siswane, sumrambah wong-wong kang maju-pikirane ning desa sengkaning-gunung. Ing pemburi taun-taun sabanjure wong-wong kang padha ngrungkebi nyeceb Ilmu Endriya pra Astha kuwi kasebut aran Wong Kanung. Isine Undhang-undhang pranatan kuwi ana 8 (wolung) bab:
Unen-unen Pranatan yakuwi :
  1. Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan.
  2. Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone).
  3. Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana.
  4. Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat (=September).
  5. Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane.
  6. Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa.
  7. Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit.
  8. Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja.
Eyang Dhatu Hang Sambadra sawise misudha Putra-putrine nuli nilar praja dadi Sramana dhedhepok ning punggur Gunung Tapa’an, lan mulangake Ilmu Tatapranatan Endrya pra Astha ning para Siswa Wong-wong Kanung. Pasraman Gunung Tapa’an kono digawekake Tamansari tinanduran kembang-kembang maneka-warna: Mlathi, Kanthil, Gadhing, Kenanga, Mawar, Pacar-kuku, Kemuning, Gambir. Neng kono akeh Bregat ngrembuyung edhum, padha dienggoni nusuh manuk-manuk rupa-rupa; pakange bregat kethukulan: Aggrek, simbar lan kece pating grembel. Tarulata padha mrambat pepuletan pating klewer, kembange selang-seling putih biru, jambon lan wungu. Taman-sari kuwi dijenengake: Taman Argasoka; para cantrik, cekel, manguyu padha surti gambyak ngrawati Taman-sari kuwi.
Eyang Panembahan Hang Sambadra dadi Sramana ning Gunung Tapa’an kono tutug sepuh, seda ing taun Masehi: 425. Awu layone dipetak (dikubur) dadi sakluwat karo Reliqe Eyang Dhanhyang Kie Seng Dhang ning satengahe punggur Pudhen Tapa’an; ditengeri Watu-alam tilas pamujane Nini Ampu, watu kuwi nongol sa-ndhuwure gumuk Pundhen. Sawise Eyang Panembahan seda, negara Pucangsula akeh owah-owahan wiwit ing taun Masehi: 426.
  1. Dattsu-Agung Dewi Sibah ngangkat putra Arya Asvendra dadi Dhatu-anom Pucangsula, manggon ning bumi Gebang sunglon Bugel. Arya Asvendra ngrungkepi Agama Hindu Kanung Shiwa Guru Dewa wulangane Ramane, ning punthuk Gebang dheweke nggawe:
    1.1.     Pamujan, Lingga-Yoni nglambangke bakti-tresnane ning Sembok-Semake (Ibu-Ramane).
    1.2.     Pamujan Lembu-Nandhi ndepok, nglambangake Tatakan kekuwatane Kawula-rakyate.
    1.3.     Pamujan reca Dewa Shiwa Guru Dewa, nglambangake Ramane: Rsi Agastya kuwi Guru-Agung Ilmu Kaprajan lan Kasekten-mandraguna.
    1.4.     Pamujan reca Ganapati Dewane Kawicaksanan putrane Bathara Guru, nglambangake: Slirane dhewe kuwi putrane Guru Rsi Agastya.
  2. Angkatan Laut Pucangsula dipindhah ning negara Keling dikwasakake Dewi Simah, dibantu garwa hang Sabura; nanging isih kebawah negara Pucangsula.
  3. Rsi Agastya diwisudha diunggahake dadi Dhatu Batur, punjere banjar didadekake kutha aran: Batur-retna. Banjar Rabwan dadi Plabuhane negara Baturetna.
Let sawetara taun wong-wong Endrya-Satvamayu krungu warta yen Rsi Agastya jumeneng Dhatu ning negara Baturretna, wong-wong mau banjur akeh kang padha nusul pindhah bebadra ning bumi Dieng kang subur digawe ulah petanen. Wong-wong kang ora dadi tani, diprentahake nyambut gawe ngumpulake wlirang saka peperenge kawah Dieng; wlirange kanggo pedagangan negara Baturretna diganjolake barang-barang petukangan lan kain sutra karo Pedagang saka negara China, liwat plabuhan banjar Rabwan. Negara Baturretna bareng dadi gedhe lan makmur, Dhatu Rsi Agastya nuli mrentahake tukang-tukang ahli pahat batu wong-wong saka Endrya-Satvamayu, diutus nggawe Candhi sepirang-pirang; saben candhi mawa reca Shiwa Bathara Guru; dununge candhi ning bumi punggur Gunung Dieng. Saben candhi kanggo Pamujane Sramana Shiwa Guru saka Pasraman kana-kana wilayahe negara Baturretna. Kaendahan lan kaelokane Pasraman Dieng kang akeh banget candhine Shiwa Guru Dewa, kang kinilung tlaga lan gunung-gunung sesawangane ngresepake ati. Para Sramana menehi jeneng: Pasraman-agung Endrya pra-Astha.
4. Dattsu-agung Dewi Sibah nayogyani ning kaipe Hang Sabura nedya ngedhuk wlirang ning bumi leluwah sawetane Gunung Dieng, sarta nggawe desa ning saelore Kejajar kanggo panggonane wong-wong kang padha nyambut gawe ngedhuk wlirang mau. Wlirang kuwi uga diganjolake karo Pedagang saka negara China.
Pengangkutane wlirang digawekake dalan liwat: Jlumprit, Adireja, Candhirata, Sukareja, mengetan ning Singaraja nuli nganti diemot prau liwat bengawan Bodri. Sungabane bengawan-Bodri ning teluk Bodri segara Jawa digawe plabuhan dagang kang sesambungan dagang karo negara Sabrang kana-kana; papane Teluk Bodri kuwi diapit-apit Punthuk-punthuk gunung Singaraja, kaanane luwih sembada omber banget nyenengake tinimbang plabuhan banjar Rabwan. Mula pedagang wlirang kliwat plabuhan Bodri kuwi malih luwih reja lan maju.
Saka anane sesambungan dagang wlirang karo negara-negara China, negara loro: Keling lan Baturretna kuwi malih dadi sugih lan makmur. Nanging mbanjur nukulake kamurkan, sii lan sijine rebut nguwasani: “Kriwikan dadi Grojogan”. Wekasane dadi perang bandawala. Ing taun Masehi: 436. Sarehne Kawula-rakyat sing dijak bebadra biyen nganti dadi negara Keling lan Baturretna kuwi, asal-usule sedulur wong Kanung Indriya pra Astha Pucangsula, mula peperangan kuwi katelah aran: Perang sedulur Endriya pra Astha.
Ing sajrone perang brubuh Rsi Agastya gugur ning palagan, wong-wong Baturretna saprajurite padha giris buyar mlayu mulih asal-negarane ning Endriya Satvamayu. Kutha Baturretna lan Pasraman Candhi Dieng sarta penambangan wlirang dijegi prajurit Keling kang padha makuwon ning Adireja, pangwasane Dhatu Rsi Agastya dadi cures ganti dikwasani Hang Sabura panglima Angkatan laut keling. Arya Asvendra krungu yen ramane gugur sarta negarane dikwasani paman-Hang Sabura, sakala pikire kobar nedya ngrebut negarane swargi-Ramane kang dadi hak-warisane. Sedyane Arya Asvendra wis dipenggak Ibu Dattsu Pandhita Dewi Sibah, nanging meksa nglimpe Ibune; dheweke mbudalake prajurit Sandi liwat alas Rabwan lan Bawang nusup mengidul nedya ngrebut Pasraman-agung Dieng dhisik, lan panggonan-panggonan wlirang. Tiba apese Arya Asvendra, lagi bisa nrobos beteng-pungkuran Candhi dheweke wis kena tulup-paser mawa racun saka Prajurit-seluman Keling kang padha njaga Candhi. Wasana Arya Asvendra gugur ngrungkepi sangarepe Candhi Sumbadra pamujane Sramana saka Pucangsula, prajurite Arya Asvendra kang perang ning alas-gedhe Rabwan akeh kang padha gugur; mayite pating glethak saenggon-enggon ning alas kono ora ana sing ngrawat, yitmane klambrangan dadi memedi Setan-Roban.
Sebab saka anane perang sedulur kuwi, Dattsu–agung Dewi Sibah ngrasa angles ing panggalih; ewuh aya ing pambudi. Arep ngrewangi negara Baturretna ateges nataki garwa Rsi Agastya. Arep ngrewangi negara Keling ateges nataki sedulur-adhik Dattsu Dewi Simah. Mula puntoning panggalih mbanjur nilar praja lumengser mertapa ning Pasraman Taman Argasoka Gunung Tapa’an, pemrentahan Pucangsula dipasrahake Pepatih; kang didhawuhi ora kena nyampuri urusane Perang-sedulur. Dewi Sibah seda ing nalika taun Masehi: 445, awu-layon dikubur ning Pundhen Gunung Tapa’an.
SIGEG
V. Gunung-Gunung JAWA-PURWA padha njeblug
In tahun Masehi: 450, Gunung Dieng njeblug; Candhi Pasraman-agung Endriya pra Astha rusak korat-karit, para Sramana sing isih slamet padha ngungsi sumebar saparan-paran ngumpul ning pertapan-pertapane Wong agama Hindhu-Kanung, yakuwi wong Agama Hindhu kang muja nggawe pamujan Lingga-Yoni sarta Lembu Nandhi ning Pertapan-pertapan sakubenge Pegunungan Gemawang (Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung).
Ing taun Masehi: 470, Gunung Ungaran nusul njeblug kawahe sing sisih wetan jebrol nyisa dadi kawah-mati Rawa Pening. Bledegaba bulah-bulah gumulung gedhe blabar ngalor-ngetan mlebu segara Jawa, gumulunge alun nyempyok gompenge Pegunungan Kendheng-kidul, dadi pada longsor ngurug segara Teluk Lusi lan segara Jawa; wasana mbanjur dadi dharatan Kabupaten Purwadadi, Kabupaten semarang, Kabupaten Demak, Kecamatan gajah. Nyisa mberemane kali Tanggulangin sing banyune wutah ning sunglon Welahan (Biyen desa kuwi isih ngongkan segara Jawa). Banyu tuk saka sela-selane gompengane Kendheng-kidul kuwi padha nglumpuk dadi kali: Jlagung Tuntang, Serang, Lusi lan Bengawan Juwana/ Silugangga (=Jratun Seluna).
Kawahe Gunung Ungaran sing wis matigenine ngembos-embos njedhul ngalor mengetan ning satengah-tengahe dharatan tilase segara Teluk Lusi; geni mau rina-wengi murub gumrebet manther-anther ora ana pegote dadi Mrapen (Api-Abadi), ning desa Mintheng, Kecamatan  Gubug, Kabupaten Purwadadi.
Manut dongeng Legenda: geni Mrapen kuwi tilas besalene Empu Ramadi Dewa tukang gawe keris; sawijining dina dheweke dijak ranjen para Dewa perlu ngethok puncake Gunung Maha Meru kang tansah dipeneki Kethek-kethek padha dolanan uthik-uthik lintang; Empu Ramadi ugik, merga lagi nggawe keris-pusaka Kahyangan Suralaya. Wasana dadi perangrame Dewa-dewa padha ngrubut Empu Ramadi sa-besalene diurug lemah kedhukane Gunung Maha Meru. Sarehne Empu Ramadi sekti tan kena ning pati, senajan wis diurugi lemah saka puncake gunung, ewosamana tetep isih urip sagenine besalen kang dadi geni Mrapen tutug wektu iki.
Bledegabane kawah Ungaran sing wis sirep ngembos-embos njebrot wujud endhut manget-manget ngemu uyah, bola bali mlembung sa-kebo mbanjur mbledhos kumeluk ngganda wlirang; rina-wengi nyuwara Bledhag-bledhug. Linede mblabar ngamblah-amblah nganti salapangan-alun-alun, banyune lined dialap wong-wong desa Kuwu, Kecamatan Kuwu/Wirasari, Kabupaten Purwadadi/Grobogan; digodhog digawe uyah diarani uyah bledhug Kuwu.
Ing taun Masehi: 471, Gunung Maura (Murya) uga njeblug pegunungane sing sisih kidul-wetan pedhot misah dadi Gunung Pati Ayam. Lambene kawah sing jebrol blegedabane mblabar mengidul ngurug Segara supitan Maura, mbajur malih dadi dharatan Kudus, Pati, Juana; nyisa wujud rawa-rawa gedhe wilayah Undhak’an  lan bengawan Silugangga.
Blagedeba sing mbludag mengetan nukulake alun omak gedhe nglanjak nyempyok gompenge Pegunungan Ngargapura tumlaweng mengulon tutug Kayen; gumulung baline ombak-gedhe nyered perenge gunung-gunung gompenge padha longsor ngurug segara Teluk-Kendheng, wasana malih dadi tanah ngare: Kayen, Jakenan, kaliori, Rembang, Sulang, lasem lan pamotan. Longsoran perenge Gunung Ngargapura sing sisih kulon ngesuk bumi Argasoka, lemahe malik numpleg ngurug desa-desa tegal pesawahan Pucangsula padha kependhem. (Saiki malih dadi desa: Ngendhen, Lagadhing, Sendangsari, Topar, Klindon, Warugunung). Kraton Pucangsula Endriya pra Astha kesered gumulung baline alun, sakehing wewangunan, omah, candhi, kedhaton, lan liya-liyane keblebeg ambles satengahe Ceruk segara Teluk Juwana; wasana padha sirna ludhes kakubur ning dhasare segara. Mung nyisa pundhen Tapa’an kubur awu layone Kakek-moyang panembahan Kanung, leluhure wong-wong Ngargapura Lasem; lan guwa-guwa tilas pertapaan, sarta sawetara reca Lembu nandhi, Ganapati, Lingga; uga grewalan-pecahan Altar-pamujan sisa tilas gempurane VOC kerja-paksa nggawe ratan-gedhe Daendelsstraat nalika tahun Masehi: 1809-1810.
Sabanjure bumi Argasoka dadi pusa ora ana sing ngenggoni, wekasane dadi grumbul bebondhotan rungkud sirung; kawuwuhan disirik wong dikhandhakake jare: Kuwi lemah singit-sangar panggonane Setan Brahala Dhemit. Wong-wong Kanung sing manggon Ceriwik lan pegunungan Sindawaya isih padha slamet, sing giris padha ngungsi ning perenge Gunung Buthak Pamotan sapengulon tutug wetan Todhanan; wong-wong mau ning bumi kono malih ganti aran Wong Kanor. Sing manggon Todhanan sapengulon tutug Sukolilo, Kabupaten Pati sarta pulo-pulo Rawa desa Kuthuk, Galiran, Kaliyasa, Ngelo, Karangrawa; malih ganti aran Wong Sikeb (=wong Samin). Wong-wong suku Kanung, Kanor, Sikeb mau sanajan wis ngalih ning kana-kana lan ganti arane Suku, nanging Adat-tatacara Budipakarti Kanung isih tetep dirungkepi naluri leluhur Pucangsula Endriya pra Astha. Yen didhawuhi Pamrentah-Negara mlebu Agama apa wae iya ora suwala mung manut kersane sing mrentah. Nanging tumindake ya mung angger: Rubuh-gedhang, obor-blarak = ora tulus suwe mlebu ning nalare.
Sawise 149 taun saka penjebluge Gunung Murya, owahe segara Teluk Serang lan Selat Maura kang malih dadi dharatan, isih nyisa segara Selat Welahan lan Rawa-gedhe Bengawan Silugangga, sarta Teluk Juwana; ngilung Gunung Maura. Bumi dharatan anyar perenge Gunung Murya sing sisih kidul mau, luwih saka satus taun wis dadi alas pejaten kang ngongkang Rawa-gedhe selat Murya. Ing taun Masehi: 620, bumi kono kuwi wis dienggoni wong bebadra saka negara Keling Dattsu Dewi Simah, wong Pegunungan Ngargapura, lan wong Pegunungan Sukalila. Ana kanoman gegedhug A.L. Keling kang isih Trah-darah turun kaping enem saka Hang Sabura/ Dewi Simah, asmane: Hang Anggana; dheweke ngajak wong-wong Pelaut negara Keling lan Petani pokol sing bebadra mau, dijak mbubak alas pejaten nggawe desa lan plabuhan sing gisike nggenggeng karangkitri rupa-rupa, bareng wis dadi desa karan: Getas-Pejaten, plabuhane karan: Tanjungkarang.
VI. Kawitane dumadine negara KUDUS
Ing taun Masehi: 645, sebab saka wuwuh rejane banjar Getaspejaten, Dhatu Hang Anggana nuli ngelar panggonan kuwi mekar mengalor sarta yasa punjere kutha nganggo asmane dhewekke katelah aran Rananggana (Rana + Anggana = Hang Anggana bandhol paprangan). Saiki aran kutha: Kudus. Wektu kuwi wis akeh wong saka India kidul negara Chola sing padha dagang-ganjol ning pasar Tanjungkarang, wong negara Chola mau ngijolake: Babut-prangwedani gambar Pura/Candhi Hindhu, lan minyak-wangi Yasmin/ Tagara, sarta pratus wangi; negara Rananggana ngijoli kayu-jati glondhong, kapuk randhu lan lenga klenthik-klapa. Wong negara Chola kuwi agamane Hindhu Shiwa Maha Dewa, jare Agama kuwi Agung luwih bener lan luwih suci tinimbang Tata Budibudaya suci Jawa-Hwuning. Sabab saka sambung rapete Penggedhe Rananggana karo Juragan-juragan negara Chola, wasana Penggedhe-penggedhe lan wong dhuwuran. Rananggana kuwi wiwit padha kapilut niru Kabudayane wong Chola mau; mlebune Kabudayan Chola ning negara Rananggana ndeseg Tata Budibudaya suci Jawa-Hwuning sing dianggep remeh lan asor. Sarehne kalah birawa kalah gebyar, Penggedhe-penggedhe lan wong Enom-kutha sing umur 18 taun sapengisor padha berag padha ngrasa gagah nggunakake Budayane wong sabrang Ngatas-Angin; luwih-luwih para Wanitane padha anut-ngrubyug: “Kaya Belo melu seton. Kaya bebek nyemplung kedhokan.” Nanging kawula rakyat Cilik ning Karangpadesan, pegunungan lan bumi Rawa, ora mreduli ora nggubris anjrahe Kabudayan manca ngono mau. Wong-wong mau mung botha-bathu mledreng nyambut gawe butuh rejeki kanggo nyampeti krandhah anak-bojone. Dhatu Hang Anggana sarehne wong wegig lan wicaksana, mula uga ngguyubi melu mlebu Agama-Hindhu nanging dudu Hindhu Shiwa, dheweke ngarang Agama Hindhu-Kanung. Sabab ngrumangsani nggone dadi Dhatu-Agung ning negara Rananggana kuwi saka dhukungane kekwatane wong-wong Kanung kang uga isih Wangsane dhewe. Mula wujude Pamujan utawa Pura-purane negara Rananggana kuwi ora niru cakrik Hindhu Chola utawa Hindhu Dieng, dheweke nggawe Pamujan Lembu-Nandhi ndepok ning Altar nglambangake Kekwatane Rakyate, sarta Lingga-Yoni wujud Lumpang-Alu gedhe banget, nglambangake: Hang Anggana Dhatu Agung kang mundhi-bekti Sembok/Semake sarta Dhanhyang Leluhure. (Dununge Sanggar-pamujan  kuwi saiki dadi desa Demangan, kakilung gendhong-gendhong Pabrik Rokok).
Saterue nuli nggawe Pamujan Merudhandha-Agung (Saiki isih wujud Menara Kudus cedhak mesjid Kudus-kulon). Merudhandha kuwi nglambangake ke-Agungane negara Rananggana; puncak tengahe Merudhandha didokoki Oncor-prunggu ana pahatane gambar Manyura ngingel, oncore tumumpang ajug-ajug (=Tajug) emas, rina wengi tansah murub nganggo lenga klentik-klapa; dijaga/dirawat Pendhita Hindhu Kanung wong 4 padha ganti saben 4 jam. Oncor kuwi nglambangake Kaluhurane lan Kawicaksanane Hang Anggana; pisungsung saudagar China krajan Tsang Tai Tsung. Ring gisik tepine bengawan Silugangga (Juwana) para Pambelah/Pelayar/Pelaut digawekake candhi pamujane Dewi Hwa Ruh Na recane wujud Dewi Ratune Samodra njoget tetayungan. Saiki tilase candhi-candhi mau wis kari wujud Pura padhang gogrog ning desa: Jatiwetan, Loramkulon, Njepang lan Temulus. Sarehne Rakyat Rananggana kuwi agamane Hindhu Kanung pamuja Lembu nandhi, mula wong-wong mau padha sirik banget mbeleh sapi lan gemang mangan daginge; nganti jaman pangwasane Shunan Tajug-Islam tutug jaman saiki isih dadi Adat-kapercayan, tembunge: “Juuuug… juug, mangan daging sapi kuwi ora ilok Naang/Noook!!!”. Hang Anggana seda in taun Masehi: 660, awu layone dilarung dikelemake ning sumuran sangisor-dhasare Merudandha; ning wektu sabanjure banyu sumur kuwi kanggo mbabtis wong kang arep dadi Pandhita kanung. Rembesane banyu sumur kuwi njedhul tutug gompinge Kali Gelis; gomping kuwi ditembok dhuwur dhasare digawekake jedhingan, banyune kanggo: Siraman ngruwat-sangkalane Bocah kang wiwit demolan dibarengi Kethok-kuncung.
VII. Adege negara MEDHANG-Metaram I (BLO)
In taun Masehi: 725, ana wong Kanung wegig saka Medhang-Kamulaan (Teluk Lusi Blora) kang isih klebu trah-tedhake Dattsu Dewi Simah, asmane Hang Sanjaya. Dheweke ngajak wong-wong Medhang Kamulaan, wong-wong Keling lan wong-wong Rananggana, diajak bebadra nggalang Banjar papane ning bumi sawetane Gunung Dieng, punjere Banjar dumunung ning Adireja sawetane Gunung Buthak (Kabupaten Temanggung). Wong-wong mau ngumpul ning wong-wong Kanung sisane panjebluge Gunung Dieng sing manggon desa-desa: Gemawang, Kemiri, Limbangan, Boja,; wong-wong mau Agamane Hindhu-Kanung pemuja Lembu-Nandhi lan Lingga-Yoni. Hang Sanjaya nggone nggalang banjar lan punjere kutha dumunung ning Adireja kuwi perlune:
  1. Nedya nguripake penambangan wlirang sing wis pusa kanggo pedagangan maneh karo negara China.
  2. Supaya bisa cedhak nggone ngirup Desa-desa sing biyene dadi Krerehane Leluhur Endriya pra Astha.
Sesambungan dagang karo negara Sabrang nggunakake plabuhan Teluk-Bodri sing ngongkang segara Jawa, nuli munggah pagenengan Singaraja, Sukareja, lan Candhirata mbanjur tutug Adireja. Hang Sanjaya menehi jeneng negarane mau aran: Medhang-Metriyem (Tegese: Babone saka Medhang), lawas-lawas tembung kuwi malih luntur dadi: Medhang-Metaram.
Wong Medhang-Metaram kuwi agamane rupa-rupa:
  1. Hang Sanjaya dhewe agamane Buddha-Kanung naluri saka Leluhur Keling Bhikku Janabadra.
  2. Wong-wong pinter mentereng-kutha agamane Hindhu-Chola.
  3. Wong kolod pemuja Lingga-Yoni pemundhi Sembok/Semak isih agama Hindhu-Kanung.
  4. Wong Cilik Sudra-papa urip rekasa rejekine ora mingsra, ora butuh ning Agama ora mikir swarga-neraka. Butuhe mung ngupaboga nggo nyampeti kaluwarga.
Wong Medhang-Metaram kuwi sanajan Kapercayan lan Agamane rupa-rupa, nanging padha bisa rukun gotong-royong setya ning Negara/Praja. Nalika netepake adege negara Medhang-Metaram lan Undhang-undhang pranatane Praja, swarane sing menang: Wong sing ngagungake Sastra Palawa lan Taun Syaka.
Swarane wong sing ngugemi sastra lan titi taun jawa Hwuning dadi kalah, dianggep Kolod wis ora njamani (Sanepane dianggep kaya Baya-putih sing wis tuwek-loyo). Wusanane sastra Jawa-Purwa karangane Dattsu Agung Pucangsula Dewi Sibah, lan taun Jawa-Hwuning karangane Dhanhyang Kie Seng Dhang malih ora dikanggokake dadi kabur ilang. Negara Medhang-Metaram ngganti resmi ngunakake sastra Palawa lan taun Syaka nalika taun 654 (=Tahun Masehi: 732).
Tan Syaka kuwi taun Pengetan nalika jumenenge Raja Khaniska I wangsa Kushana, diwisuda dadi Narendra negara Chola India Kidul. Dadi dudu asli taune wong Jawa-Purwa.
Dongeng Crita-Legendha :
Pujangga Jawa nggawe crita Aji Saka (=Kabudayan Saka) ngalahake Baya-Putih (=Kabudayan Suci Jawa-Hwuning). Matine sampyuh perang abdi-loro Dora Sambada rebutan kerise Bendarane dikarang digawe Crita dumadine Sastra Jawa-Legena (Jawa-anyar):
HA NA CA RA KA
DA TA SA WA LA
PA DHA JA YA NYA
MA GA BA THA NGA
SIGEG
VII. Dumadine negara LASEM
Sawise panjebluge Gunung Murya (Taun Masehi: 471), segara Teluk Kendheng kang keblabaran blegedebane Gunung Murya lan klongsoran lemah gompinge Pegunungan Kendheng-gamping mau, ing taun Masehi: 850, wis malih dadi dharatan: Pamotan, Sulang, lasem, Rembang lan Juwana; wujude bumi isih katon banthak ngilak-ilak cengkar, ning kana kene mung ana grumbul rerungkudan sarta wit Bogor (=Tal) kang nggrembel gegrombolan. Mung sing cendhak perenge gunung, sing isih akeh wit-witane subur ledhung-ledhung. Ing nalika jaman kuwi wis ana wong Kanung saka desa Criwik lan Sindawaya padha mudhun bebadra mbubak bumi nyithak tegal sawah karasan pekarangan ning bumi pagenengan sakulone Gunung Bugel, dipangarsani wong aran: Ki Wekel. Wong-wong mau padha dadi Tani-pokol nandur jagung-kodhok, kacang-tholo, lan tela elung; desa bubakan-mau katelah aran desa: Tegalamba lan Karas (Karasmula, Karasgedhe, Karaskepoh). Wong-wong liyane sing uga lunga bebadra nanging gemang bubak adoh-adoh, mung terima padha bubak ning perenge Gunung Bugel lan Gunung Gebang sarta lembah sakulone nggunung sing lemahe padha nyumber banyune ngembong dadi rawa, akeh iwake kutuk lan iwak sili gedhe-gedhe; bumi kono sing didadekake desa karan desa Sumbersili (=saiki desa: Sumbergirang, dipangarsani adhike Ki Wekel asmane: Ki Welug, wong pinter sing akeh akale. Wong Sumbersili kuwi panggaotane mung Tani-ngothek undhuh-undhuh woh-wohan kebon-alas utawa memet iwak rawa; wong-wong mau nduweni kapercayaan: Titah kuwi wis duwe jadhangan pangan nalika Tumitah-Urip; sing nandur jambu-klethuk kuwi Semut-getem nggondhol wiji jambu kletuk didokok elenge ngisor watu. Codhot, kalong, lawa nggondol woh-wohan pelok beton lan kebroke padha rugol thukul saenggon-enggon. Mula ora ana carane wong tani-ngothek kuwi padha repot-repot nenandur; wit woh-ohan rak wis padha thukul-Dhewe amrah-saenggon-enggon, iwak-iwak wis padha bebranahan tengkar-tumengkar Dhewe. Menusa ora nandur ora ngingoni mungkari krapa kari memet misaya masang wuwu.
Ing taun Masehi: 870, ana wong neneka saka negara Siyem, nedya bebadra cakalbakal ning bumi pesisir kulone Gunung Argasoka, ndharate ning Sunglon ereng-erenge Pongol pesisir mau; bareng wis mantrah desa kono mau dijenengake: Pereng. Nggone bebadra mau dipangarsani Bhikku Agama Buddha asmane: Gam Swi Lang, krandhah wargane padha nggalangake Sanggar lan Pasraman ning bumi sakidule pongol pereng madhep ngulon. Wong-wong Jawa-Kanung nggone ngarani Pasraman mau aran: Gambiran (=Saka asma: Gam Swi Lang owah aran: Gambiran). Kakek Gam Swi Lang mulangake Agama Buddha-Kanung mundhi ngluhurake asmane Dattsu Dewi Sibah; tumrape wong Siyem Dattsu Dewi Sibah kuwi dianggep Maharani sing wis sarira Bodhisatva. Citrane Sang Dewi dipetha diukir wujud reca Bodhisatva-Avalokitesvara cakrik Reca negara Keling/Keled Bodhisatva ngagem makutha Praba-kudhup Melathi; reca didokok ning altar saburine reca Sang Buddha. Wong Jawa-Kanung lan wong Siyem kuwi lawas-lawas padha sambung jodhon sesilangan, ora ana sing mbedakake Trah asline utawa Kapercayan Agamane.
Ing taun Masehi: 880, Ki Welug nyuwita Bhikku Gam Swi Lang perlu meguru Ilmu Agama Buddha lan ilmu-ilmu liyane. Sawise bontos lan lulus sakeehing piwulang, Ki Welug diparingi titel Pujangga lan asma Wisudhan Kapujanggan, asma: Mbo Widyabadra. Sawise mulih nuli mulangake Ilmu-Karya ning krandhah rakyate. Sing luwih elok wong Sumbersili mau diwulang nggawe panganan:
  1. Woh Kamala dibesta gula digawe manisan.
  2. Olah-olahan lawuhan: Iwak rawa sawise diresiki nuli diwadhahi klenthing disap-sap sega-jagung lan uyah, diperem limang dina nganti bosok gandane buwadheg arane: Bekasem (utawa: Masin). Ngolahe: Dibothok diuled karo krambil enom parudan, digawe lawuh mangan sega-jagung jangane elung utawa kangkung kela-asem rasane ngabelani banget.
Lebar mangan nganti ateb swarane seru: “Hwaeeeek. Aduh Semboooook segere!!!” Nuli ngenyut manisan Kamala karo lenger-lenger lungguh lincak ora klamben kringete gumrobyos, silir-silir angin semribit saka Gunung Bugel karo mambu gandane kembang sangketan sengir-wangi; uripe wong Tani-ngothek Sumbersili sing kayangono kuwi wis ngrasa girang seneng ayem. Ki Welug Widyabadra ngajak wong Sumbersili nggawe bata gedhe-gedhe perlu digawe tembok nanggul sumberan kang mili pating sreweh mbleberi Desa, banyune diilekake mlebu kali Semangu lan Kemandhung mbajur ajor kali tegalamba terus mlebu rawa Narukan. Liya kuwi wong-wong mau diwulang dadi Kundhi nggawe grabah-lemah, jothoke karan: Kundhen. Uga diwulang dadi Pandhe jothoke karan: Pandheyan. Wong-wong wadon Kundhen diwulang nggawe Ampo-lempeng, lemahe ngapek saka gompeng Palwadhak sing ana lempunge kete-kuning yen wis dadi Ampo rasane rada gurih. Wondene wong-wong Tani-pokol Tegalamba diwulang nandur pari sing tanpa mbutuhake diembong banyu, bibite saka sumbangane wong-wong Siyem arane pari Gaga-rancah, dadine beras aran: Krotog. (Aja diucapake muni: Gogo dipangan kebo loro!! Benere diucapake muni pari Gaga, sing nandur wong tegalamba lan wong Karasmula, ditandur kulone desa).
Adege banjar Karanggan dadi Kutha LASEM
Wong Kanung Tani-ngothek lan Tani-pokol dipimpin Mpu Widyabadra kuwi padha guyub lan seneng banget, dheweke nuli diangkat dadi Rangga (=Pemimpin Karya) sarta pindhah nggawe panggonan karan banjar: Ke-ranggan = Kranggan. Ora lawas banjar Kranggan kuwi malih reja kaya kutha, mbanjur dijenengake, kutha Lasem. Ngapek aran saka tembung: Kama-la lan Beka-sem. Nalika ditetepake dadi kutha Lasem ing masa Bedhidhing taun Masehi: 21 Juni 882 kanthi pahargyan gedhen. Mpu Widyabadra nggawe pengetan Candrasengkala Taun Syaka: 804 = (Akarya: 4, kombuling: 0, manggala; 8) : Akarya kombuling manggala.
Sasedane Mpu Widyabadra (Ki Rangga) ing taun Masehi: 920, kutha Lasem-Argasoka suwene nganti 425 taun tutug pangwasane Mpu Metthabadra ing taun Masehi: 1345, ora ana dahuru lan sambekala. Negara Lasem kuwi bumine cengkar uripe Rakyate kontit-kawuri banget katimbang karo Rakyate negara-negara gedhe Gunung Kidul (Mataram-Parambwana, Daha, Kedhiri, Singasari); nanging pikire wong Lasem kuwi padha ayem-mlekedhem sabar-darana. Mulane negara-negara gedhe mau ora ana sing sudi nglajak utawa njajah. Lagi wiwit jaman Pangwasane Prabu Ayam-Wuruk Majapait, birawane Patih Arya Gajah bandhol-perang Panglima Angkatan Laut Majapait wong saka desa Mada (salore Kecamatan Plosso, Kabupaten Jombang); Akuwu Lasem Mpu Metthabadra ditelukake, pemrentahan Lasem digingsir digantekake Wakile yakuwi Dhampuawang Pr. Rajasawardhana kaipe Prabu Ayam-Wuruk.
Adege Kraton LASEM Dewi Indu-Purnamawulan
Prabu Ayam-Wuruk tindak Lasem karo rayi nak-dulur misan Dewi Indu Purnamawulan garwa Pr. Rajasawardhana. Dewi Indu diwisudha dadi Prabu-putri Lasem; ing nalika taun Masehi: 1351, manggon Puri Kriyan (Tilase saiki dadi Wisma Yatim Piatu Jl. Raya Lasem) Kaendahane lan Tataraharjane kutha Lasem kecathet ning buku Sabda Badra-Santi dening Mpu Santibadra.
Kraton Majapait ambruk
Jamane Sri Kertabhumi (Kertawijaya) ratu Majapait, kaluhurane nanendra wis malih surem, awit para Penggedhe nayaka-praja wis padha mangro-tingal ora bekti ning Narendra; pikire ora setya ning Praja:
  1. Padha slingkuh ngenthu-enthu donya-rajabrana.
  2. Wis ganti ngidhep ing Gusti ning Agama liya, ora ngidhep Agamane negara Majapait.
  3. Penggedhe-penggedhe pesisir lor wilayahe Majapit wis padha mbalela, malih ganti bekti ning Shunan Seh maulana Maghribi.
  4. Uripe Kawula rakyat majapait wis klendran ora kopen, bumi alas lan bengawan Brantas diebrakake Penggedhe; bregat-bregat dutebangi kanggo mbangun dalem brenggi.
  5. Sri Kertabumi dimusuhi Girindrawardhana Adipati Kedhiri rebutan waris kuwasa Tedhak Leluhur Kedhiri. Girindrawardhana gemang dikwasani Sri Kertabumi Majapait, wekasane thukul daruru pembrontakan ning Kutha Majapait.
Negara Majapait diprawasa kedhiri, dipit karo negara Pesisir kang musat ning Kashunanan Gresik. Negara Majapahait rontog rusak korat-karit sirna ing taun Syaka: 1400, di Candrasengkala: (Sirna: 0, wuk: 0, kertaning: 4, bumi: 1) = Taun Masehi 1478.
Nalika geger pembrontakan kuwi ana Mpu Guru asmane Pr. Santibadra, pujangga Seni Budaya Majapait pangkat: Tumenggung ing Wilwatikta; ditawan Penggedhe-pembrontak Majapait, nanging Mpu Guru bisa lolos kondur ning Lasem karo abdine telu. (Kacritakake ning buku Sabda Badra-Santi). Satekane Lasem kojur, awit kutha Lasem wis dadi negara Islam dikwasani Adipati-putri Maulani Malokhah, kang isih kapernah putra mantu-ponakan dhewe. Eyang Pr. Mbu Guru trima ngalah lumengser dadi Sramana mertapa ning Gunung Tapa’an-Ngargasoka, ngiras mulangake Ilmu Endriya pra Astha ning para Pendhita-pendhita Kanung Ngargapura Lasem, sarta ngarang Pustaka Sabda Badra-Santi (Begja-Rahayu). Nggone dadi Sramana ning kono tutug sepuh seda ing taun Masehi: 1527, awu-layone dikubur ning pundhen Tapa’an kono nunggal sakluwat kumpul karo awu-layone para Dhanhyang leluhur Agung Ngargapura Lasem, yakuwi:
  1. Eyang Kie Seng Dhang Dhatu Tanjungputri, seda ing taun Jawa-Hwuning: 30 (=200 taun sadurunge Taun Masehi). Sing dikubur ning kono mung Reliqe, dudu awu-layone.
  2. Eyang Hang Sambadra Dhatu Pucangsula, seda ing taun Masehi: 425.
  3. Eyang Dewi Si Ba Ha (Dewi Sibah) Dattsu Pucangsula, seda ing taun Masehi: 445.
  4. Eyang Rangga Widyabadra, Mpu sing cakalbakal kutha Lasem; seda ing taun Masehi: 920.
Mula ning Pundhen Gunung Tapa’an kuwi sejatine ana kubur awu-layone leluhur Agung lima. Asmane sing nonjol-kaloka mung Eyang Mpu Guru Pr. Santibadra, sabab Eyang Mpu Guru wis ninggali Karangan Sloka wasita Adiluhung Pustaka Sabda Badra-Santi minangka gegaran kanggo Ulah Kautaman tumuju ning kabegjan lan Karahayon.
Nganti wektu-siki Pundhen Gunung Tapa’an kuwi isih wujud Pundhen kang mung dicungkup sarwa prasaja-banget, mung nganggo pager bethek-kayu tanpa omah pangauban udan/panas kanggo para Petirakat Tuguran/Nyekar kang padha rawuh sumewa ning kono. Pangestine Wong-wong nggunung kono kang padha mbesiki lan memundhi Pundhen Leluhur Ngargapura kuwi padha ngantu-antu.
*** Muga-muga enggal anaa Priyagung/Wiryawan/Dhanawan padha kesdu mangastuti mbangun omah Pangauban sarta nggawekake dalan tumuju munggah ning laladan Pundhen Tapa’an kono, supaya ing tembe ndadekake regeng-rejane Desa kono dadi papan Pariwisata; wong desa Ngasinan mbanjur bisa bukak-dhasar nggawe warung jajanan, panganan lan omben-omben kanggo nglayani para Wisata kang mbutuhake isen-isen ***
Dhek jaman kuna, suwargi kakek Kanung R. Panji Karsono ing Kemendhung Laem, sok masitani krabat-kadange Wong-wong Gunung Ngarga; kanthi dikidungake:
“Mangastuti uggyaning Ibu-pertiwi, sukalila mbangun Taman-Argasoka; Nagri: Jladri ardi wana khudup-mlathi.”
Dhek biyen dhek isih jaman penjajahan Landa, akeh wong-wong Tuwa sing apal rengeng-rengeng nembangake Slokane Mbah Panji sing aneh ngono kuwi, nanging wong-wong mau ora ngreti jluntrunge lan tegese Warsitane kidung kuwi. Yen ana wong sing wani takon ning Mbah Buyut Kanung, jawabe iya mung sarwa pralampita: “Mbesuk nggeeeer! Yen wong Jawa wis akeh sing padha ra i ketan, wis kemba Mangan-jali ning wong Tuwa; para-putri ora risi nganggo kathok-cekak sa-nduwure cingklok. Para priyayi dines-resmi kathokan landhung ngagem pici, katon bregas miyatani. Lha ing kono titi-wancine para Janma kang Luber-arta luhur-budi, pada memetri mbanun Pudhen-suci kapetha Candhi. Buyut dhewe iki wis ora menangi jaman kuwi!!!!”
TAMAT
Tambahan Keterangan :
Taun Sejarah diganti taun Masehi, kanggo nggampakake pamikire para Sutresna Sejarah.
Negara Pucangsula, Medhang-Kamulaan, Keling, Rananggana, isih nggunakake Taun Jawa Hwuning lan Sastra Jawa-Purwa.
Negara Medhang-Mataram I, lan Mataram II (Parambwana), wis nggunakake sastra Palawa lan taun Syaka.
Negara Medhang-Mataram I,. Kedhiri, Majapait, Lasem, nggunakake Taun-Syaka
Babon sejarah :
  1. Saka Cathetan lan Critane swargi Kakek-kakek Kanung Ngargapura
  2. Saka Critane Singkek-singkek suku Chaow Syuhu-Gwamia, lan Shinsey engkong Tya An guru Bhs Kwo le Lasem, taun Masehi: 1930
  3. Pustaka Sabda Badra-Santi
Ingkang kepengin kagungan Buku-Sejarah punika supados gethok-tular Motocopy.